by

Yerry: Jokwi Harus Mengangkat Nikolaus Kondomo Jadi Gubernur Papsel

-Daerah-177 views

koranpemberitaankorupsi.com | Ketua LSM Wadah Generasi Anak Bangsa (WAGAB) Provinsi Papua, Yerri Basri Maak, SH, siang tadi kepada media ini menyampaikan kekagumannya terhadap orang nomor satu di Indonesia yang tak pernah berhenti menaruh perhatiannya kepada masyarakat Papua.

Yerripun merespon rencana kunjungan Bapak Presiden RI Joko Widodo ke Kabupaten Merauke september mendatang, dalam rangka melantik Karateker Gubernur bagi tiga wilayah pemekaran Provinsi yang baru disahkan.

Mendahuluinya dirinya mengusulkan agar lelaki yang kini masih aktif menjabat Kepala Kejaksaan Tinggi Papua harus mendapat perhatian khusus Presiden Jokowi, supaya dilantik menduduki posisi sebagai orang nomor satu di Provinsi Papua selatan.

Mengingat karir dan prestasinya, serta tekadnya yang kuat dalam memberantas segala bentuk KKN ditanah air, untuk itu menurut Yerri Figur pemimpin yang tepat adalah Nikolaus Kondomo, SH.,MH. Sebagaimana sepak terjangnya yang jahu dari isu miring, melainkan semangat yang tak terpatahkan terus dibuktikannya untuk membersihkan tindak tanduk prilaku Pejabat yang menghalalkan segala cara demi memperkaya diri sendiri.

” Bapak Presiden Jokowi kebanggan kami. Ijinkanlah kami LSM WADAH GENERASI ANAK BANGSA (WAGAB) PROVINSI PAPUA bersuara menitipkan Pesan dari Ujung Indonesia Timur Matahari terbit.
Bila nanti pada Bulan September mendatang dalam Agenda Negara untuk datang ke Merauke guna melantik Tiga Karateker Gubernur di Tiga Provinsi baru. Kiranya Bapak Presiden berkenan akan Figur yang kami yakini sangat cocok menjabat sebagai Gubernur Papua selatan yakni, Bapak Nikolaus Kondomo, SH.,MH, menurut hemat kami beliaulah pribadi yang sesuai dengan keinginan masyarakat setempat. Untuk itu pak Jokowi kiranya berkenan akan beliau,” pinta Yerry.

Bagi Yerri sosok seperti Nikolaus, hanya dapat dihitung dengan jari ketika berbicara tentang Pemberantasan Korupsi ditanah air, khususnya di Provinsi Papua selatan daerah yang baru dibentuk.

Ketika dikonfirmasi Ketua LSM via telepon pada Senin siang, Kejati Papua pun menanggapi seraya berharap agar setiap pemberitaan media tidak berlebihan dalam mengusungnya, atau juga untuk menarik simpati masyarakat Papua selatan. Mengingat masih banyak sekali orang pandai dengan tabiat kepemimpinan yang mungkin saja lebih matang dari dirinya, khususnya anak asli Papua.

Berkaitan dengan Agenda Presiden Jokowi untuk datang ke Kabupaten Merauke pada September nanti, dalam rangka melantik Tiga Karateker Gubernur, Nikolauspun berpesan kepada Presiden Jokowi dan seluruh tokoh Adat, tokoh Masyarakat, Pemuda dan Perempuan. Agar tidak salah dalam menentukan pilihan, dan kepada siapa suara hati mereka tertuju.

Sebab bila masyarakat menginginkan pemimpin yang berhati rakyat, memihak dan mengedepankan tujuan pemekaran Provinsi ini, berarti harus bisa melihat pada latar belakang Prestasi kerja dan yang lebih penting adalah pendekatan komunikasi, interaksi dan harmonisasi yang intens terus dibangun diatas dasar adat yang kuat, sebagaimana yang telah terpelihara turun temurun.

” Bagi masyarakatku Papua, khususnya masyarakat diwilayah Papsel. Lihatlah dan tentukanlah siapa yang kalian pandang baik. Saya sendiri tidak lebih baik. Jika saya berkata bahwa saya lebih baik dari mereka, tentu saya menipu diri sendiri. Saya juga miliki banyak kekurangan, tetapi satu komitmen saya ‘ KESEJAHTERAAN MASYARAKAT dan PELAYANAN YANG BERBASIS KEADILAN HARUS DI KEDEPANKAN’. Semua hal yang menyangkut kepentingan Pribadi, Golongan atau Kelompok, harus disingkirkan demi tercapainya tujuan bernegara,” ujar NK.

Ia juga berpendapat bahwa, pada kenyataannya banyak pemimpin gagal dalam mengimplementasikan visi misi mereka dan seringkali terbentur kepentingan kelompok, imbasnya rakyat menjadi korban dari kebijakan yang tidak menguntungkan.

Nikolaus juga berharap agar Presiden Jokowi bisa berkaca dari Kasus-kasus korupsi yang dilakukan oleh Oknum oknum pejabat selama ini, bahkan ia menilai masih banyak lagi yang belum terungkap, sebaliknya semakin genjar melakukannya sacara  sembunyi-sembunyi tanpa ada rasa takut. Semua itu menjadi ukuran pengambilan keputusan terhadap seseorang yang hendak dipercayakan, agar langkah tidak kembali salah. (Nando)