by

Tagihan Kontraktor Belum Dicairkan, Sekda Keerom Terkesan Ingkar Janji

-Daerah-598 views

koranpemberitaankorupsi.com | Dua tahun lamanya pihak perusahan harus berurusan dengan Sekretaris Daerah (SEKDA) Keerom demi sebuah harapan terealisasinya janji Sekda kepada pihak perusahan, yang kala itu masih menjabat sebagai Kepala Badan Keuangan (BPKAD) Keerom.

Sungguh disesalkan, Paket Pekerjaan Peningkatan Ruas Jalan Arso 14 selesai 2020 lalu, namun proses penyelesaian pembayaran oleh PEMDA, dalam hal ini SEKDA Keerom hingga kini masih terkantung – kantung, lagi belum ada kepastian.

Sherly Susan ditemani Stafnya kepada awak media di Cafe Humblot Entrop kota Jayapura membeberkan kekesalanya, (Selasa, 21/06/22)

Dirinya sangat kecewa terhadap respon Sekda Keerom yang seakan acuh tak acuh terhadap pihak perusahan PT. Lautan Timur Papua sebagai pemenang tender pekerjaan jalan kampung Bulukubun dan kampung Ubiyau Lama.

” Pak Indra itu gimana, kenapa suka memberikan janji janji kosong ? Janji beliau 2020 lalu sampai tahun 2022 ini masih berlanjut, bahkan baru saja beliau memperlihatkan ketidakbecusannya menepati omongannya sendiri. Prilaku macam apa ini.., Memalukan,”  kesal Sherly.

Tunggakan utang Pemda Keerom kepada PT. Lautan Timur Papua yang dinilainya disebutkan berkisar 7,6 Miliar Rupiah sampai saat ini masih mengambang tertahan oleh janji manis seorang Kepala BPKAD yg kini telah menduduki Jabatan Kepala ASN Sekretaris Daerah kabupaten Keerom.

Tentu sebagai pihak yang merasa dirugikan usai tanggungjawabnya berhasil diselesaikan sesuai kalender kerja, merasa adanya ketidakadilan ditambah proses pembayaran yang berberlit-belit. Ini dapat dilihat juga dari ucapan Sekda yg tidak konsisten dan terkesan malas tahu.

Sherly yg juga akrap disapah Bu Susan, bersama Yunus orang kepercayaannya, lagi kepada rekan -rekan media saat bersantai di Cafe Humblot tak henti-hentinya berbicara tentang perlakuan Sekda Keerom yang dinilainya masa bodoh dengan utang PEMDA Keerom kepada PT. Lautan Timur Papua, jelasnya sangat merugikan perusahan.

Disampaikannya lagi, terlampau banyak janji-janji manis yang keluar dari mulut seorang Sekda yg hasilnya kosong, penuh tipu muslihat.

Baginya bila kewajiban perusahan telah terpenuhi, mengapa pihak PEMDA Keerom tidak memperhatikan hak perusahan

” Sudah banyak kali kita pulang balik Keerom demi memperjuangankan hak kita sebab yang menjadi kewajiban sudah kita penuhi, tetapi kenyataannya seperti ini. Jawaban dan janji Kepala Badan Keuangan yg sekarang menjabat Sekda semuanya itu omongkosong, tipu semua,” ujar Dirut Sherly beraut kesal.

Lagi tambahnya, bahwa berita acara serah terima sudah diselesaikan, pihak Inspektorat juga sudah turun sendiri ke lokasi proyek dan melihat saat itu, ternyata tidak ada masalah, yang kini menjadi persoalan adalah hak perusahan sebesar 7,6 Miliar yang harus dibayarkan segera, dan bukan hanya menebar kata-kata manis.

Menurut Sherly, janji -janji manis penuh kebohongan seorang Sekda bersama Pejabat dan Staf di BPKAD Keerom adalah sesuatu yang telah terorganisir dengan baik, sehingga proses tagihan utang perusahan kepada pihak BPKAD selalu berujung kecewa.

” Bila saya hendak jujur,  Saya sudah bolak balik Keuangan, sudah kordinasi dengan orang di Keuangan, tetapi apa yang saya dapat, kalimat yang mereka sampaikan adalah,, Uang ada tapi belum bisa dibayarkan karena mesti ada perintah dan petunjuk dari pak Sekda,” katanya.

Tagihan yang tak kunjung cair, disertai proses perjuangan Sherly Susan bersama anak buanya, akhirnya terlampiaskan juga saat dirinya bertatap muka dengan Indra Sekda Keerom diruangan kerjanya.

Karena lama menunggu janji hampa, keributanpun tak terhindarkan, namun demi menghindari perhatian Bupati, Sekda Keerom berusaha menelepon Kepala Inspektorat, juga Kepala BPKAD, padahal menurut Sherly aksi Sekda saat itu hanyalah trik busuk seorang Indra demi meredam emosi Bu Sherly kala itu.

Sherlypun mempertanyakan keseriusan Sekda Keerom terkait utang PEMDA Keerom kepada perusahan PT. Lautan Timur Papua, yang mana sudah berjalan dua tahun sampai hari ini belum juga terealisasi.

Pasalnya, ada oknum kontraktor yg dipercayakan mengerjakan beberapa pekerjaan tahun 2021 sudah tuntas tagihannya, sementara tagihan dari PT. Lautan Timur Papua, masih belum tahu kejelasannya.

” kami sangat tidak mengerti kebijakan seperti apa ini, kenapa tagihan utang kami tidak didahulukan..? dan mengapa prioritaskan tagihan baru, padahal paket pekerjaannya kemarin saja 2021. Jelas tidak adil dan tidak bisa diterima,” katanya.

Dirinya Sherly sangat berharap kepada PEMDA Keerom, dalam hal ini Sekda, agar  bisa dengan segera merealisasikan tagihan satu diantara dua paket pekerjaan jalan kampung Bulukubun dan kampung Ubiyaulama tahun 2020 lalu.

” Sebagai Direktur utama PT. Lautan Timur Papua dan sebagai perempuan yang merasa dirugikan karena menuntut hak perusahan, tentu saya lelah, capeh karena dibohongin. Tetapi kami pihak perusahan akan berusaha semaksimal mungkin sampai apa yang menjadi hak kami bisa dalam waktu dekat ini dapat terealisasi semua,” harap Sherly Susan, Dirut PT. Lautan Timur Papua. (ND)