by

Yusril Ihza Mahendra Gugat Presidential Threshold Ke MK

-Politik-22 views

KPK | Prof Yusril Ihza Mahendra sebagai Ketua Umum PBB akhirnya memilih ikut menggugat syarat nyapres 20 persen kursi DPR ke Mahkamah Konstitusi (MK).

Sikap pakar hukum tata negara dan pengacara kondang ini, berbalik 180 derajat. Karena di awal tahun lalu, Yusril menyatakan tak tertarik ajukan judicial review karena mengaku sudah kehabisan akal menghadapi MK.

Berdasarkan situs resmi MK, Yusril melayangkan gugatan presidential threshold pada Jumat (25/3/2022). Mantan Mensesneg ini tak sendirian mengajukan gugatan. Turut menjadi penggugat yaitu Sekjen PBB Afriansyah Noor, Ketua DPD La Nyalla Mattalitti dan tiga Wakil Ketua DPD yaitu Nono Sampono, Mahyudin, dan Sultan Bachtiar Najamudin.

Inti gugatan mereka sama dengan para penggugat presidential threshold sebelumnya. Mereka minta MK menghapus syarat ambang batas pencalonan presiden atau presidential threshold dalam Pasal 222 Undang-Undang (UU) Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu.

“Menyatakan Pasal 222 Undang-Undang Pemilu bertentangan dengan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan tidak memiliki kekuatan hukum mengikat,” demikian bunyi petitum pemohon Yusril Cs yang dimuat di laman resmi, MK.

Yusril mengetahui benar tak mudah memenangkan perkara ini. Dari 19 perkara serupa, hanya tiga putusan yang pokok perkaranya dipertimbangkan hakim MK. 16 perkara lainnya tidak dapat diterima karena dianggap tidak memiliki legal standing. Sehingga pokok perkaranya tidak dipertimbangkan.

Karena itu, dalam gugatan kali ini, Yusril menyiapkan jurus baru agar permohonannya dikabulkan MK. Apa itu? Mantan penulis pidato Presiden Soeharto ini menyatakan, dasar permohonannya berbeda dari tiga perkara yang dipertimbangkan MK sebelumnya. Sebagai ketum parpol, Yusril merasa punya dasar hukum kuat.

Kata dia, PBB adalah peserta Pemilu 2019. Dalam pemilu itu, partainya meraih 1,09 juta suara atau 0,79 persen. Meski tak memenuhi syarat perolehan suara di parlemen, partainya memiliki hak untuk mengajukan calon presiden. Hal ini sebagaimana mana tertuang dalam Pasal 6A ayat (2) UUD 1945. “Namun, hak tersebut kini dibatasi karena Pasal 222 Undang-Undang Pemilu,” tulis Yusril, dalam gugatannya.

Dengan alasan itu, Yusril menilai Pasal 222 UU Pemilu bertentangan dengan prinsip negara hukum agar presiden dipilih langsung oleh rakyat, dan pemilu yang periodik. “Karena itu, Pasal 222 harus dihapus untuk membuka ruang lebih lebar bagi arus perubahan sesuai dengan dinamika dan aspirasi masyarakat,” ujarnya.

Pasal 222 UU Pemilu pada intinya mengatur, partai politik atau gabungan partai politik yang bisa mengusung capres-cawapres paling sedikit harus mendapat 20 persen kursi di DPR atau 25 persen suara sah nasional hasil pemilu sebelumnya. Menurut Yusril, Pasal 222 ini lebih condong ke status quo yang tidak demokratis ketimbang kepada arus perubahan yang reformis.

Yusril menegaskan, Pasal 222 ini lebih menguntungkan parpol lama, terlebih dengan syarat hasil pemilu 5 tahun sebelumnya, dan akibatnya akan cenderung mempertahankan kekuasaan lama dan menutup peluang perubahan. “Padahal kekuasaan yang cenderung bertahan lama tetap akan cenderung koruptif, dan karenanya membutuhkan pembaharuan,” cetusnya.

Untuk memperkuat argumennya, mantan Menteri Kehakiman dan HAM ini mencontohkan sistem pemilu yang ada di Uruguay. Kata dia, sistem pemerintahan di Uruguay sama dengan di Indonesia, yaitu sama-sama menganut sistem presidensial dan multi partai. Sistem pemilunya pun mirip dengan Indonesia. Namun, di Uruguay tak ada ambang batas pencalonan presiden. Setiap partai politik diwajibkan untuk mengajukan kandidat presidennya masing-masing dan pemenangnya ditentukan dengan sistem 2 ronde. Dengan tidak menerapkan threshold, indeks demokrasi Uruguay lebih baik, yaitu berada di peringkat 15, ketimbang Indonesia berada di peringkat 64.

Sikap Yusril ini berbeda dibanding awal tahun lalu. Ketika itu, dalam sebuah diskusi online, Yusril menyiratkan tak akan ikut-ikutan melayangkan gugatan presidential threshold ke MK. Ia mengaku telah kehabisan akal. Berbagai analisis keilmuan sudah digunakan, namun hasilnya nol.

“Saya sudah habis akal menghadapi MK. Terus terang saja, ilmu saya sudah habis. Saya sudah gunakan analisis melalui filsafat hukum ketika terakhir kali mengajukan uji materil ke MK, tapi hasilnya nol,” kata Yusril, saat itu.

Selain itu, ia juga merasa bahwa sudah agak lelah membicarakan presidential threshold, lantaran sudah berkecimpung melalui berbagai dimensi. Mulai dari akademisi hingga politisi.

Apakah kali ini Yusril akan berhasil? Sejauh ini, MK telah memutus 22 gugatan terkait presidential threshold. Semua gugatan tidak dapat diterima dan ditolak. Terakhir, gugatan yang dilayangkan mantan Panglima TNI yang juga pentolan Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) Gatot Nurmantyo. MK menyatakan norma yang dimohonkan Gatot Cs sama dengan yang dimohonkan para pemohon sebelumnya. Karenanya, belum terdapat alasan fundamental untuk dapat menggeser pendirian mahkamah atas putusan-putusan sebelumnya.

Pengamat politik dari Universitas Al Azhar Indonesia Ujang Komarudin menyatakan, sikap Yusril ini berbanding terbalik dengan awal tahun lalu, yang menyatakan tidak akan mengajukan gugatan ke MK. Soal hasilnya, dia memprediksi, dengan melihat gugatan-gugatan sebelumnya, nasib Yusril juga akan sama, kemungkinan ditolak MK.

Jika ini terjadi, kata dia, pilpres nanti akan diisi wajah-wajah lama. “Suka tak suka, mau tak mau, Pemilu 2024 masih akan didominasi oleh 4L. Lu lagi, lu lagi,” ucapnya.

News Feed