by

Makam Syaikh Syamsuddin al-Wasil, Magnet Wisata Religi Kota Kediri

-Wisata-251 views

koranpemberitaankorupsi.com | Kota Kediri – Dikutip dari buku berjudul “Inskripsi Islam Tertua di Indonesia” oleh C. Guillot, Luvdik Kalus dan Willem Molen, Mbah Wasil merupakan tokoh penyebaran agama Islam yang terkenal di Jawa Timur, termasuk Kediri pada sekitar abad 10 Masehi. Seorang petugas BPCP sekaligus juru kunci makam, Muhammad Yusuf Wibisono mengatakan Syekh Wasil masuk ke Kediri pada masa pemerintahan Raja Sri Aji Joyoboyo pada abad ke-10 Masehi.

Tak ada yang tahu pasti asal-usul Mbah Wasil. Sejumlah sumber meyakini Mbah Wasil berasal dari Turki. Mungkin karena itulah dia juga dijuluki Pangeran Mekah. Namun masyarakat ketika itu lebih kerap memanggilnya dengan nama Mbah Wasil. “Dipanggil Mbah Wasil karena beliau sering memberikan wasil (ahli bertutur sapa, berpetuah yang baik),” kata Yusuf kepada awak media Koranpemberitaankorupsi ( Kamis 03/02/202)

Hal pertama yang dilakukan Mbah Wasil saat menyebarkan Islam di Kediri adalah dengan melakukan pendekatan ke warga. Tujuannya agar kehadirannya bisa diterima dengan baik oleh masyarakat.
Metode dakwah diawali pendekatan ini dilakukan sebab sebelum Islam masuk, warga Kediri sudah memiliki keyakinan lain. Di Kediri ketika itu sudah banyak situs-situs berupa arca sebagai lokasi sembahyang.

Melalui pendekatan, Mbah Wasil berhasil menyebarkan Islam di Kediri. Islam pun berkembang pesat di wilayah yang kini dikenal dengan Kota Santri itu. Sejumlah masjid pun dibangun. Salah satunya Masjid Setono Gedong.

Setelah Mbah Wasil wafat, jenazahnya dikebumikan di area Masjid Setono Gedong. Selain Syekh Wasil, ada juga beberapa tokoh Islam yang dimakamkan di sini. Mereka antara lain Wali Akba, Pangeran Sumende, Sunan Bagus, Sunan Bakul Kabul, Kembang Sostronegoro, Mbah Fatimah dan Amangkurat.
Menurut Yusuf, makam Mbah Wasil selalu ramai oleh peziarah di musim Ramadan. Khususnya di waktu sore menjelang buka puasa. Selain bulan puasa, peziarah juga memadati area makam di hari raya Idul Fitri. Tak hanya dari Kediri, peziarah juga datang dari Jakarta, Bandung, Bali, Surabaya, Malang, Solo, Blitar dan Tulunganggung bahkan dari luar negeri.

Maka tak heran jika kawasan Makam Setono Gedong menjadi salah satu wisata religi andalan pemerintah daerah setempat. Selain itu, Setono Gedong juga telah ditetapkan sebagai lokasi cagar budaya oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan Mojokerto.

“Awal Ramadhan, di saat bulan Ramadhan dan menjelang Idul Fitri, pengunjung selalu mengalami peningkatan, apalagi bagi para peziarah yang memiliki hubungan kerabat dengan Syekh Wasil. Menjelang Idul Fitri atau malam ganjil 25,27,29 pengunjung yang datang bisa mencapai 30 ribu orang,” Namun sejak vandemi pengunjung kami batasi dan menerapkan prokes ketat. “kata Yusuf. (Lisa DS)