by

Waduh! Diduga Kakek 60 Tahun di Garut Sodomi Anak di Bawah Umur

-Hukam-338 views

KoranPemberitaanKorupsi.com | Garut – Senin,19/10/2020 kasus Kejahatan sexual yang menimpa anak dibawah umur digarut semakin menggila, kali ini menimpa seorang anak warga di salah satu desa di Kecamatan Sukaresmi Kabupaten Garut, sebut saja Sikasep (nama disamarkan) jenis kelamin laki – laki kelahiran garut,5 juli tahun 2006.

“Guna menggali informasi lebih detail, awak media melakukan investigasi kerumah sikasep (korban). ; awalnya si kasep/korban hendak belajar mengaji di rumah salah satu saudaranya, tepatnya tetangga kampung, masih di desa yang sama yakni dikecamatan sukaresmi tutur sikasep, namun ditengah jalan kasep (korban) bertemu dengan terduga pelaku’ inisial (DE), yang rumahnya tidak jauh dengan tempat dimana sikasep hendak belajar mengaji, perlu diketahui oleh khalayak’ bahwa terduga pelaku (DE) berusia lebih kurang 60 tahun masih ada hubungan kerabat dengan sikasep (korban) tepatnya keterkaitan antara kekek dan cucu, keterangan tersebut disampaikan oleh keluarga korban.

“Selanjutnya sikasep diminta untuk memijit terduga pelaku (DE), awalnya sikasep menolak permintaan terduga pelaku, kemuadian pelaku merayunya dengan memberikan uang sebesar Rp.5000 kepada sikasep, namun sebelum dipijit’ terduga pelaku terlebih dahulu memegang bahu korban’ kemudian korban disuruh rebahan dengan posisi telungkup, sambil menurunkan celananya ;tak lama terduga pelaku menindih sikasep dari belakang dan terjadilah peristiwa naas dan sangat memalukan tersebut, hingga kasep merasakan kesakitan pada bagian anusnya pungkas sikasep (korban).

“Untuk lebih jelasnya awak media juga mendatangi seorang ketua RW tetangga kampung sikasep, yg berinisial (A), dalam keteranganya A membenarkan, bahwa beberapa waktu kebelakang dirinya kedatangan tamu, yakni keluarga sikasep/korban dan keluarga (DE) atau pelaku, keperluanya tak lain untuk melakukan musyawarahkan masalah tersebut secara kekeluargaan, terduga pelaku (DE) yang notabene masih ada hubungan kerabat dengan kades setempat itu, mengakui perbuatanya kepada sikasep dan meminta maaf kepada pihak keluarganya, sebaliknya keluarga sikasep juga memaafkan ujar RW A. ;namun entah merasa tidak puas hanya dengan permintaan maaf atau bagaimana’ sehingga akhirnya ibu sikasep melaporkan kasus Amoral yang menimpa anaknya tersebut ke mapolres garut, tak lama kemudian setelah dilaporkan (DE)sudah diamankan oleh pihak polres garut, tentunya akan dituntut untuk mempertanggungjawabkan perbuatan yang telah dilakukanya tandas A.

“Masih kata RW A, dirinya tidak menyangka akan kejadian ini, karena prilaku sehari – hari terduga pelaku (DE) tergolong rajin mengikuti acara pengajian tambahnya, tidak ada gelagat yang mencurigakan, namun ketika dimusyawarahkan (DE) mengakui perbuatanya pungkas RW A.

“Untuk melengkapi informasi awak media juga melakukan konfirmasi kepada ketua RT. Dimana sikasep tinggal yang berinisial D, selaku pengurus awalnya dirinya sangat terkejut mendengar informasi tersebut, namun karena sudah menjadi kewajiban selaku pengurus masyarakat ; selanjutnya dia mencari tahu alamat kantor perlindungan anak digarut, dan mengantar korban beserta keluarganya guna mencari perlindungan, terutama terhadap kondisi psikologi dan mental korban yang notabene masih anak dibawah umur tutur RT. D.

;masih kata RT, dirinya juga sudah dipanggil oleh penyidik polres garut untuk dimintai keterangan, termasuk saksi lain yang juga merupakan anak dibawah umur yang dianggap mengetahui saat kejadian, kini kasus dugaan sodomi yang menimpa sikasep(korban) ini sudah dilaporkan oleh ibu korban dengan bukti register laporan: LP/B/463/X/2020/JBR/RES GRT tertanggal 14 oktober 2020.

saat ini kasusnya sudah ditangani aparat penegak hukum, semoga penanganan hukum terhadap pelanggaran UU Nomor : 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak ini berjalan dengan lancar pungkasnya.

“Namun sangat disayangkan disaat awak media baru selesai melakukan wawancara dengan pihak korban, hanfon yang sedang dipegang kakak korban berdering katanya itu telfon pihak P2TP2, dikatakan jika ada wartawan atau pihak manapun, tidak diperkenankan memberikan keterangan apapun, malah disuruhnya menemui mereka, hal ini sangat disayangkan, lagi lagi ada indikasi intervensi terhadap korban dan keluarganya, agar tidak berkomunikasi dengan pihak luar terutama media’ entah apa maksudnya namun yang jelas’ setiap orang yang berprofesi wartawan dalam menjalankan tugas profesinya dilindungi oleh UU nomor 40 tahun 1999 tentang pers, hal ini patut diduga ada indikasi untuk menghalang halangi terbitnya suatu pemberitaan adanya peristiwa tindak pidana, disisi lain publikasi oleh baik media cetak maupun online mempunyai nilai edukasi mencerdaskan bangsa, agar dikemudian hari masyarakat ikut mensosialisasikan UU 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak secara lebih masif lagi, sehingga kasus kejahatan yang menimpa anak dibawah umur dapat diminimalisir kedepanya. (S.Afsor/Tim biro garut)

News Feed