by

Tim PH Korban Dugaan Kejahatan Sexual Anak Datangi Polres Garut

-Hukam-95 views

KoranPemberitaanKorupsi.com | Garut – Senin,12/10/2020 penanganan kasus Dugaan kejahatan sexual terhadap melati (nama disamarkan) warga desa cigadog kecamatan cikelet garut, sampai hari ini sudah berjalan satu bulan lebih tujuh hari sejak dilaporkan, terpantau oleh tim Penasehat hukum korban sangat lamban progres penangananya.

“Hal tersebut dilontarkan oleh Kuasa Hukum Korban yang bernama Muchlis Nugraha SH. ; menurutnya ada beberapa kejanggalan terkait mekanisme/SOP penangananya, menurutnya justru berpotensi merugikan klienya selaku korban, yang mana semua orang tahu bahwa’ dalam kasus ini korban atau klienya masih katagori anak dibawah umur tutur muchlis,

;menyikapi kinerja polres garut dalam hal ini Unit PPA, Selaku Kuasa Hukum korban Saya bersama Rekan Advocad datang kepolres dalam rangka konfirmasi, alhamdulilah kedatangan kami diterima dengan baik oleh Kanit PPA sendiri tambahnya.

“Saat ini klien kami dalam kondisi sehat dan aman, walaupun beberapa waktu kebelakang terindikasi ada tekanan terhadap psikologisnya entah apa penyebabnya, namun saat ini kondisinya dalam keadaan sehat, baik dan aman ujar muchlis.

“Masih kata muchlis’ Jika Penanganan kasusnya tetap seperti ini, kami akan melakukan upaya hukum lain yang dimungkinkan oleh KUHAP, atau jika ditemukan dan cukup bukti melanggar peraturan kapolri (PERKAP) nomor 6 tahun 2019 tentang penyidikan tindak pidana, sangat mungkin bagi kami untuk mengajukan praperadilan terhadap penyidik polres garut.

“Selanjutnya terkait isyu yang berkembang diluar bahwa saya selaku PH korban mendapatkan bayaran, disini dengan tegas saya jawab’ saya dan rekan tidak dibayar sepeserpun oleh pihak korban tandasnya. ;Saya bersedia mendampingi korban karena ini murni kasus sosial dan saya mengedepankan rasa empati dan kemanusiaan, terlebih karena saya putra daerah kelahiran cikelet asli, dan itu banyak saksinya ungkap muchlis nugraha yang sehari – harinya akrab dipanggil kimung.

“masih kata muchlis’ selaku putra daerah dan praktisi hukum, masa tega dan diam melihat dan mendengar, ada peristiwa kejahatan sexual yang menimpa anak dibawah umur ?.. yang lebih miris hal tersebut diduga dilakukan oleh seorang kepala oknum desa, harusnya ini menjadi perhatian semua pihak, hukum itu haruslah berlaku kepada semua pelanggarnya, tidak mengenal kasta,jabatan,kelompok,golongandan kedudukan, semua harus diperlakukan sama didepan hukum ujar kimung.

“Khusus dalam kasus melati (korban), saya dan para relawan advocad selalu mengikuti,memantau, dan melakukan analisa, dan akhirnya berkesimpulan bahwa prosedur penanganan kasusnya terindikasi patut diduga tidak wajar/masuk angin, maka dari itu kami akan mengajukan upaya hukum lain yang telah diatur didalam peraturan perundang undangan, agar hal serupa tidak terjadi lagi terhadap melati/korban – korban yang lain kelak dikemuadian hari pungkas muchlis/kimung. (S. Afsor/Tim)

News Feed