by

Opini: Destinasi Wisata Lampung Utara Antara Ada dan Tiada

-Wisata-118 views

KoranpemberitaanKorupsi.com | Lampung Utara – memiliki banyak sekali potensi alam yang dapat dijadikan objek destinasi pariwisata. Apabila dikelola dengan sepenuh dan mendapat support yang maksimal, bukan tidak mungkin potensi alam yang dimiliki itu prospektif dalam mendongkak pendapata asli daerah.

Dari hasil penelusuran yang saya lakukan, dari tahun ke tahun, Pemerintah Kabupaten Lampung Utara, dalam hal ini leading sectornya berada di Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) setempat, menggelontorkan sejumlah dana yang nilainya mencapai ratusan juta rupiah guna pengembangan dan pengelolaan destinasi wisata Lampura.

Namun fakta di lapangan, hampir tidak ada lokasi wisata di kabupaten yang di masa lampau berjuluk ‘Tanah Lado’ ini yang memiliki infrastruktur memadai sehingga lokasi-lokasi yang potensial itu menjadi kunjungan wisata.

Cukup mengherankan diiringi rasa prihatin yang sangat mendalam.

Memang, di beberapa lokasi, seperti lokasi wisata Green Bamboo yang terletak di Desa Sribandung, dan Festival Durian di Desa Gunung Gijul, Kecamatan Abung Tengah, saat ini cukup terkenal hingga ke luar Kabupaten Lampung Utara.

Juga lokasi wisata Tirta Shinta di Desa Wonomarto, Kecamatan Kotabumi Utara dan beberapa waktu lalu sempat booming dengan kegiatan Festival Wonomarto sehingga masuk dalam agenda tahunan pariwisata Provinsi Lampung.

Selain itu, beberapa curup (air terjun) yang ada di beberapa desa di Lampura sukses menjadi destinasi wisata.

Tapi, semua aset itu dikelola oleh pemerintahan desa melalui BUMDesa masing-masing dengan dukungan serapan Dana Desa dan tentunya menjadi PADesa masing-masing. Bukan PAD Kabupaten Lampung Utara melalui leading sector Disporapar setempat.

Lantas, dimana jatuhnya anggaran pengembangan pariwisata yang jumlahnya mencapai ratusan juta rupiah melalui APBD Pemkab. Lampura yang selama ini? Lokasi yang konon kabarnya secara lisan mendapatkan hibah tanah dari Kakimal di Desa Wonomarto untuk dikelola oleh Pemkab Lampura, saat ini kondisinya seperti ladang menggembala kerbau dan kambing milik warga ! Bahkan di sudut-sudut tertentu menjadi lokasi strategis muda-mudi yang di mabuk asmara.

Ah, sepertinya tulisan opini saya ini, untuk sementara saya cukupkan sampai disini terlebih dahulu. Sembari mencoba untuk menggali lebih mendalam dan menjadi sebuah karya jurnalistik berupa news indepth demi kemajuan pariwisata di Lampura yang kelak mampu menjadi salah satu penopang PAD.

Oleh: Andriansyah, penulis adalah wartawan media siber sinarlampung.co Biro Lampung Utara.(Rilis Tim)

News Feed