by

Masih Wacana, Pembangunan Pabrik Semen di Jayawijaya Ditentang Warga dan Mahasiswa

-Daerah-158 views

KPK | Kota Jayapura – Amra di sangka kedondong, mungkin petikan peribahasa ini tepat bagi mereka yang suka menolak niat baik, seperti halnya niat baik Pemerintah Provinsi Papua dalam hal ini Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Papua, yang tengah merencanakan pembangunan pabrik semen di Kabupaten Jayawijaya

Meski pembangunan pabriknya masih sebatas wacana, namun telah ditentang dan ditolak oleh Masyarakat Adat dan Mahasiswa Jayawijaya.

Frets J. Boray, SE.MSi Kepala Dinas ESDM Provinsi Papua menyampaikan kekesalan dan kekecewaannya pasca aksi penolakan(Demonstrasi) yang dilakukan oleh Mahasiswa Jayawijaya di depan Kantor DPRP Kota Jayapura kemarin, Senin (29/06/)

Kepada media ini dirinya menyampaikan rasa hormat atas masukan yang diberikan oleh Mahasiswa Jayawijaya, dengan alasan-alasan tertentu tidak menerima pembangunan pabrik semen, padahal baru dalam tahap perencanaan(planning), karena dikawatirkan dampak lingkungannya bagi masyarakat sekitar.

“Kepada seluruh masyarakat dan Saudara-saudara mahasiswa yang melakukan aksi penolakan terhadap pembagunan pabrik semen, saya mau katakan begini; untuk melakukan suatu kegiatan fisik pembangun jangka panjang itu tidak serta merta langsung kita bangun, ada tahapan-tahapan yang harus kita lewati, mulai dari Perencanaan yang matang, Expolorasi, Viability Study, sampai dengan pembuatan Dokumen Amdal. Semuanya harus dipresentasikan dengan begitu baru bisa keluar ijin produksi dan baru bisa jalan, serta memang membutuhkan waktu yang lama,” jelas Frets.

Kadis menambahkan, “dengan proses waktu yang lama itu di kaji dan dievaluasi dampak-dampak lingkungan yang akan terjadi dan itu sudah dipikirkan matang-matang, bukan asal-asalan. Perluh juga diketahui bahwa dampak lingkungan itu terjadi karena pembukaan lahan. Berarti kita akan merubah bentang alam yang ada disitu, dan seluruh konsekwensinya telah kita antisipasi terkait dengan dampak-dampaknya,” terangnya.

Lagi dirinya mengatakan, bahwa rencana pembangunan pabrik semen ini adalah karena kebutuhan daerah, bukan keinginan Pemerintah Provinsi Papua, sehingga perluh dipahami secara baik bahwa rencana pembangunan ini demi kebutuhan daerah dan juga masyarakat.

“Pembangunan pabrik semen akan memberikan dampak ekonomi cukup signifikan bagi Kabupaten Jayawijaya Peluang investasi miliaran rupiah, ini harus ditangkap dan dipikirkan baik. Dampak kehadiran pabrik semen, menurut Kadis, langsung bisa dirasakan saat investor baru mulai merealisasikan investasinya. Yakni, saat awal membangun pabrik,” katanya.

“Dampak ekonominya besar sekali. Ketika mau investasi saja dampak sudah besar. Bangun pabrik saja perlu tenaga besar, karena investasi sangat besar. Akan ada banyak sekali tenaga kerja yang terserap hanya untuk pembangunan pabriknya saja,” kata Kadis.

Manfaat ekonomi lebih besar lagi akan dirasakan oleh masyarakat, saat pabrik mulai beroperasi. Paling utama adalah serapan tenaga kerja. Geliat industri pabrik semen, diyakini akan menggairahkan perekonomian di sekitar lokasi pabrik.

Pabrik semen, lanjut Frets, juga membutuhkan suporting dari beberapa usaha lainnya. Contohnya transportasi angkutan, hingga pengapalan untuk mengirim hasil produksi.

“Pabrik semen ini perlu berbagai sub kontraktor. Akan banyak usaha ikutan yang tumbuh,” kata Boray.

Soal dampak negatif terhadap lingkungan yang timbul akibat pembangunan pabrik semen, menurut Frets, sudah didiskusikan jahu-jahu hari. Pasalnya, hampir setiap industri atau aktivitas ekonomi, hampir selalu bersinggungan dengan lingkungan dan tidak bisa dipungkiri.

“Industri pasti punya dampak terhadap lingkungan. Tapi menurut saya, yang harus didiskusikan itu bagaimana meminimalisir dampak lingkungan. Karena, sumber daya alam ini jika dikelola dengan baik, Puji Tuhan tentu tidak akan merusak lingkungan,” katanya lagi.

Kadis menilai, penolakan terhadap pembangunan pabrik semen, bukan hal yang tepat. “Kalau kata-kata jangan dibangun, itu sudah bukan diskusi lagi. Apapun juga, semua berdampak terhadap lingkungan. Kalau ke depankan lingkungan, atau ketakutan terhadap pengaruh yang ditimbulkan nantinya, berarti semua tak akan bisa dibangun,” ucap Fret.

Kata Kadis, masyarakat dan mahasiswa perluh mengevaluasi setiap keputusan dan pengaruhnya terhadap pembangunan, jika rencana pemerintah dan niat baiknya yang orientasi pada pembangunan dan ekonomi kerakyatan, harus dipikirkan kembali, karena masih banyak tempat yang bisa di bangun di daerah Provinsi Papua. Contoh di Jayapura, di Nabire dan dibeberapa tempat lainnya.

“Masyarakat harus jelih melihat hal ini, melihat sepuluh dan dua puluh tahun kedepan Papua akan seperti apa, bukan sekarang dan kenapa mesti ke DPRP, DPRP tahunya hanya mengetok palu setelah semuanya telah final,” kata dia.

Kadis berharap, Masyarakat bisa menangkap peluang investasi yang konon besarnya mencapai belasan triliun rupiah ini. “Begini, hari ini kita bilang pabrik semen jangan dibuka. Kemudian lain hari kita bilang pemerintah gagal mengatasi pengangguran. Makanya, sayang jika (pabrik semen) tak dibangun. Menurut saya itu peluang yang harus ditangkap,” pungkas Frets J.Boray, SE, M.Si Kadis Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Papua (Nando)

News Feed