by

Merasa Diintimidasi UU ITE, Deki Susanto Melakukan Rapid dan Test Swab

-Ragam-819 views

Koranpemberitaankorupsi.com | Lampung Utara – Deki Susanto, (38), warga Desa Bandarsakti, Kecamatan Abung Surakarta, Lampung Utara, belum lama ini menjadi salah satu warga yang disinyalir terkonfirmasi positif Covid-19 dan harus menjalani karantina di ruang isolasi khusus Islamic Centre Kotabumi, sejak Selasa lalu, 9 Juni 2020.

Untuk sementara, informasi yang didapat awak media, Deki Susanto, yang merupakan salah satu guru mengaji ini dinyatakan reaktif terkonfirmasi positif Corona melalui transmisi lokal dan/atau penularan disebabkan adanya kontak langsung dengan orang yang dinyatakan terkonfirmasi positif Covid-19.

Sebelumnya, sempat beredar di media sosial video hasil wawancara dirinya dengan seseorang yang cukup menyita perhatian publik.

Dalam video berdurasi dua menit 33 detik itu, Deki Susanto menyampaikan uneg-uneg terkait penanganan dirinya sebagai warga yang terkonfirmasi positif terpapar virus Corona.

“Awalnya, saya didatangi sejumlah petugas untuk dilakukan rapid-test. Saat itu, saya sebenarnya keberatan karena saya merasa tidak perrnah melakukan kontak dengan Mbah Zainal. Sementara, Mbah Zainal dirapid test disebabkan menerima kunjungan tamu jauh dari dari Kagunganratu. Tamu Mbah Zainal itu diterimanya di hari Kamis, 28 Mei 2020, setelah hari raya Idul Fitri,” ujar Deki dalam video tersebut.

Sementara, lanjut Deki, dirinya terakhir kali bertemu dengan Mbah Zainal, satu minggu sebelum lebaran, tepatnya pada Kamis, 21 Mei 2020.

“Satu minggu jaraknya. Dan setelah itu, saya tidak pernah bertemu lagi dengan Mbah Zainal, kecuali di sini (lokasi isolasi khusus Islamic Centre Kotabumi.red). Oleh karena itulah, saat itu, saya merasa keberatan,” urainya.

Dirinya kemudian memberikan laporan kepada Kepala Desa, Camat, untuk menyampaikan keberatannya dilakukan rapid test.

“Akhirnya, mereka datang (Tim Gugus Tugas Covid-19 Lampura.red) ke rumah saya yang menyampaikan saya ada kontak langsung dengan Mbah Zainal. Dan ketika itu, saya tetap menolak karena menurut saya alasannya tidak logis,” tegas Deki.

Diketahui, Zainal yang merupakan salah satu ulama ini, sebelumnya merupakan ODP setelah kepulangannya dari Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan, mengikuti kegiatan tabligh di sana.

Dan saat ini, Zainal telah lebih dahulu menjadi salah satu penghuni ruang isolasi khusus di Islamic Centre Kotabumi.

“Mbah Zainal itu setelah 2,5 bulan dalam pengawasan puskesmas dan sudah melakukan karantina mandiri. Bahkan, dari pihak puskesmas dinyatakan sudah tidak ada masalah. Kok, setelah 2,5 bulan baru dirapid test,” urainya.

Dilanjutkan Diki, karena kemudian membawa-bawa nama dirinya, iapun tetap menolak.

“Tapi, suatu ketika, istri saya membuat sebuah postingan di media sosial FB (facebook.red) yang isinya seolah-olah menyinggung pemerintah, akhirnya pada hari Jum’atnya, saya didatangi lagi. Ini mungkin ‘senjata’ mereka, dengan menyampaikan kalau saya tidak mau dirapid test, postingan istri saya itu bisa dikenakan sanksi UU ITE,” beber Deki.

Dan akhirnya, dirinya pun bersedia menjalani rapid test karena merasa ada ancaman UU ITE.

“Saya akhirnya dirapid test. Lalu, saya dilanjutkan dengan test swab yang membuat saya dibawa ke lokasi isolasi khusus Islamic Centre Kotabumi dan dinyatakan positif,” ujar Deki.

Informasi terhimpun, tidak lama setelah keberadaan Deki Susanto di lokasi isolasi khusus Islamic Centre Kotabumi, dirinya didatangi petugas medis dan mendapatkan surat pernyataan kesediaan untuk diisolasi yang ditandatanganinya pada Jum’at kemarin, 12 Juni 2020, sekitar pukul 09.30 WIB.

“Saya dengan Pak Tajudin yang dimintai tandatangan,” ujar Deki Susanto, saat dikonfirmasi, Jum’at kemarin, 12 Juni 2020, melalui komunikasi via ponsel.

Dirinya mengatakan, tak kurang dari enam orang petugas medis dari Puskesmas Wonogiri, Kelurahan Kelapatujuh, Kecamatan Kotabumi Selatan, yang membawa surat tersebut.

“Saya sempat tanya, kok, bukan dari Puskesmas Tatakarya. Yah, mereka jawab, bukan. Dari Puskemas sini (Wonogiri.red), Pak. Kami yang ditugaskan melakukan kunjungan rutin untuk memantau perkembangan pasien di sini,” kata Deki.

Mereka juga menyampaikan, lanjut Deki, karena dirinya baru berada di sini karena itulah pihak Puskesmas kali pertama menemuinya.

“Lalu, mereka menyodorkan surat pernyataan yang isinya kesediaan kami untuk diisolasi dengan menaruh surat itu di atas meja. Lalu, mereka mundur untuk menjaga jarak aman agar tetap dapat berkomunikasi dengan kami,” ujarnya, seraya menyampaikan setelah menandatangani surat tersebut, dirinya pun memfoto surat sebagai bukti dan pegangan dirinya.

Saat ditanyakan jika surat yang ditandatangani tersebut tertera tanggal 9 Juni 2020 dan tanpa menyertai nama Kepala Puskesmas Tatakarya serta Surveilans Puskesmas Tatakarya hanya diterakan jabatannya saja dalam surat dimaksud, Deki mengatakan dirinya tidak begitu memperhatikannya.

“Waduh, Pak. Saya tidak memperhatikan hal itu. Saya langsung tandatangani saja,” kata Deki.

Terkait adanya penekanan dirinya dapat dikenakan sanksi UU ITE disebabkan istrinya membuat postingan di medsos FB, Deki Susanto menyampaikan Tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Lampung Utara yang menyampaikan hal itu.

“Oh, itu dari sana (Tim Gugus Tugas Covid-19 Lampura.red). Saat saya akan dibawa ke sini. Pak Sanny yang menyampaikannya,” terang Deki seraya menyampaikan hal itulah yang membuat dirinya bersedia untuk dilakukan rapid test dan swab.

Terpisah, Kepala Sekretariatan Posko Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Lampung Utara, Sanny Lumi, membenarkan jika pihak medis yang ditugaskan melakukan monitoring di lokasi isolasi khusus Islamic Centre Kotabumi adalah Puskemas Wonogiri.

“Ya, benar. Petugas medis yang melakukan monitoring di lokasi isolasi khusus dari Puskesmas Wonogiri,” ujar Sanny Lumi, saat dikonfirmasi, Jum’at malam, 12 Juni 2020, melalui komunikasi via ponsel.

Dirinya mengatakan, terkait surat pernyataan tersebut seharusnya dibuat pertanggal saat pasien dinyatakan dibawa ke lokasi isolasi khusus, yakni tanggal 9 Juni 2020.

“Suratnya seharusnya dibuat pada saat dia masuk atau dibawa, dong. Coba nanti saya cek dulu suratnya ya,” kata Sanny, seraya menanyakan apakah tanggal surat tersebut tertulis secara lengkap, dalam arti dibuat dari-hingga tanggal tertentu atau tidak?

Dirinya juga menyampaikan, Puskesmas memiliki tugas sebagai surveilans atau pengawasan terhadap ODP maupun PDP di wilayahnya masing-masing.

Terkait adanya statement Deki Susanto, jika pihak Tim Gugus Tugas Covid-19 Lampura yang terkesan memberikan penekanan dan/atau intimidasi menggunakan UU ITE terhadap postingan istri Deki di media sosial, Sanny Lumi menyatakan postingan itu isinya menyampaikan informasi yang tidak berdasakan data akurat.

“Postingan itu tidak berdasar, loh. Tapi sebelumnya, saya menyampaikannya secara persuasif. Dengan baik-baik tanpa tendensi apa-apa. Saya hanya menyampaikan postingan ini berpotensi terkena UU ITE. Itu saja,” tegas Sanny.

Setelah itu, lanjut Sanny Lumi, Deki yang mendatangi dirinya untuk meminta tolong.

“Dia (Deki.red), kok, yang mendatangi saya di belakang rumahnya. Saksinya banyak. Dia minta tolong supaya jangan dibawa sampai ke ranah ini (UU ITE),” kilah Sanny, seraya menegaskan jika dirinya hanya mengimbau semata, tanpa bermaksud untuk membawa persoalan itu ke ranah UU ITE.

“Inikan demi kebaikan mereka juga. Sekali lagi saya sampaikan, saya tidak akan pernah membawa masalah itu ke ranah UU ITE. Baik itu secara personal saya, maupun mengatasnamakan instansi tertentu. Sama sekali tidak akan mempersoalkan dan memaklumi adanya postingan tersebut,” tegas Sanny Lumi.

Lebih lanjut disampaikannya, pada prinsipnya, langkah yang dilakukan itu merupakan upaya untuk memberikan jaminan dan pelayanan kesehatan bagi ODP maupun PDP yang terkonfirmasi reaktif maupun positif Covid-19.

“Ini semua demi kebaikan bersama. Agar mereka dapat ditangani secara intensif dan cepat kembali berkumpul dengan keluarga dan masyarakat. Tujuannya untuk mencegah penyebaran dan memutus matarantai Covid-19 serta hal-hal yang tidak diinginkan lainnya. Isolasi itu, prinsipnya hanya pindah tempat sementara waktu saja, kok. Di sini kan penanganannya lebih terjamin. Di lokasi isolasi khusus ini juga setiap hari dilakukan penyemprotan desinfektan oleh petugas,” tutup Sanny Lumi. (ar/ Hamsah)

News Feed