by

Herman Yoku: Ada Oknum Pejabat Daerah yang Manfaatkan Situasi

-Daerah-1,238 views

KPK | Kota Jayapura – Herman Yoku Anggota Pokja Adat, Majelis Rakyat Papua (MRP), kepada media ini saat dirumahnya, kamis,(07/04/20) mengatakan, bahwa dirinya telah mendengar informasi yang mengatakan bahwa ada dua oknum pejabat daerah yang secara sengaja telah memanfaatkan situasi pandemi virus covid ini untuk memainkan peran politik mereka dengan berusaha menarik hati rakyat lewat cara yang tidak sehat.

Seperti pembagian sembako kepada warga, Bupati mengatasnamakan pemerintah datang memberikan bantuan, demikian juga wakil.

Padahal mereka masing-masing berjuang mempromosikan dan mengkampanyekan diri untuk dilihat warga siapa diantara mereka yang paling berkenan di hati rakyat, untuk menjadi Nahkoda supaya dapat pengemudi bahtera pemerintahan Keerom pada periode lima tahun berikutnya.

Dua figur pemimpin yang dimaksud yakni, Bupati Kabupaten Keerom dan Wakil Bupati. Yang sama-sama rencananya akan maju dalam pilkada 2020 ini.

Herman Yoku penggagas berdirinya kabupaten Keerom yang adalah ketua adat Keerom dan juga sebagai Ondoafi besar. Juga sangat vocal, kritis dan lantang dalam menyuarakan aspirasi masyarakat adat, jahu sebelumnya telah mengetahui gaya dan sikap dari kedua pemimpin tersebut.

Dirinya tidak dapat berdiam diri ketika melihat ketidak adilan yang sementara terjadi ditengah masyarakatnya terkait dengan bantuan pemerintah yang terkesan memihak dan tidak merata.

Herman mengaku terkejut dengan bantuan Pemerintah Keerom yang baru saja diberikan, karena menurutnya bantuan pemerintah kepada masyarakat terdampak covid-19 ini dimana-mana sudah diberikan jahu-jahu hari.

” Jujur saya pribadi sangat terkejut, ini aneh sekali saya punya adik dua ini sepertinya baru terjaga dari tidur panjang mereka, kenapa ditempat lain fokus pemerintah untuk menyalurkan bantuan kepada masyarakat itu terlihat sekali, bahkan pembagiannya masih terus dilakukan sampai saat ini. Kenapa di Keerom ini baru saja dilakukan pembagian sembakonya oleh pemerintah. Terus yang patut dipertanyakan lagi, kenapa pemberian itu tidak disertai oleh niat yang tulus untuk membantu warga masyarakat yang terdampak, kenapa mesti dipilah-pilah. Inikan terkesan ada terselubung maksud dan niat kotor didalamnya dari kedua pemimpin itu, jelas rakyatlah yang akan jadi korban nantinya,” bilang Herman kesal.

Lagi menurutnya, pembagian sembako bagi warga terdampak covid-19 di Keerom sangat tidak sesuai. Banyak warga terabaikan, dan dalam pembagian bantuan ada dua kubu saling bersaing memperebutkan kekuasaan disana, tanpa mempertimbangkan kedudukan dan asal usul mereka.

Padahal jika di tinjau dari paradigma hukum adat, jelas kedua pemimpin ini sama sekali tidak memiliki kriteria untuk menjadi orang nomor satu, atau orang nomor dua di Kabupaten Keerom, karena mereka bukan anak asli Keerom, ujarnya.

” Maaf kata jika saya menyinggung perasaan dua pemimpin ini, saya berbicara realita dan kenyataan dalam sebuah kesalahan yang memang terjadi dan mungkin akan terjadi lagi. Sungguh miris melihat keanehan ini, kok bisa ya..? mereka yang bukan anak asli bisa memimpin Keerom, ini hal yang luar biasa hebatnya, seakan sudah tidak ada lagi para intelektual anak asli Keerom yang punya kapabilitas untuk memimpin. Sampai mereka berdua ini bersikukuh untuk terus terlibat dalam panggung politik pilkada di Kabupaten Keerom. Eeeei kalian berdua saya mau kasih tahu, sadar diri dong, sy ini tidak pergi mencalonkan diri di Jawa sana, Sumatra sana, di Bali sana, Sulawesi sana, di Kalimantan sana, Ambon sana. Jangan terlalu jahu, di Port Numbai Kota Jayapura saja saya tidak mencalonkan diri, juga di Kabupaten Jayapura, Sarmi, Biak, Waropen, Serui, Nabire, Tolikara, Wamena dan lain-lain. Karena saya tahu diri saya bukan anak asli sana, tidak mungkin saya pergi untuk merampas hak orang lain, walaupun kita sama-sama orang Papua. Saya anak asli Keerom, lahir dan besar di Keerom, serta memiliki latar belakang silsilah yang jelas. Tidak seperti kalian yang tidak tahu diri, dan terus maju untuk mengejar ambisi jabatan, bukan panggilan jiwa untuk berbakti sepenuh hati bagi kepentingan rakyatku di Keerom,” pungkas Heryo.

Herman Yoku, pria pencetus berdirinya Kabupaten Keerom, jasanya seakan terlupakan tak pernah disinggung dan dibicarakan untuk diberikan pengargahan atas dedikasinya terhadap negara, padahal olehnya jangkauan pelayanan negara semakin kecil dengan adanya Kabupaten Keerom, masyarakat yang duluhnya terisolasi kini telah melihat terang peradaban dan hidup didalamnya, kian hari perlahan semakin berubah.

Dirinya menambahkan pulah, bahwa ada kekuatiran dan ketidakpercayaan terhadap para pejabat di Kabupaten Keerom, terkait dengan penggunaan dana penanganan virus covid-19.

Dikuatirkan Herman, bahwa jangan sampai sebagian besar dana tersebut dapat di alihkan untuk kampanye politik dari kedua kubuh, Bupati dan Wakil Bupati menjelang pilkada yang mendekat ini.

” Saya sangat yakin jika dana penanganan virus covid-19 ini tidak dikawal dengan ketat, maka disitu terbuka lebar pintu korupsi untuk para pejabat melakukan praktek-praktek yang tidak terpuji, yang hanya bertujuan memuluskan rencana dan ambisi untuk memperkaya diri sendiri, mengejar kepentingan jabatan, dengan mengabaikan harapan dan keinginan masyarakatnya sendiri agar hidup lebih layak dilingkungannya,” harap Herman Yoku, anggota MRP Pokja Adat. (Nando)

News Feed