by

Herman Yoku: Jangan Salahkan Miras, Salahkan Manusianya

-Hukam-506 views

KPK | Jayapura, Papua – Menanggapi beberapa pemberitaan dari media online terkait dengan peredaran minuman keras (Miras) di Papua, beberapa waktu lalu. Juga bertolak dari beberapa pertemuan dengar pendapat (RDP), yang di mediasi oleh MRP, dan dihadiri oleh Pemerintah Kabupaten Keerom, Kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura bulan Februari yang lalu.

Herman Yoku, anggota Pokja Adat Majelis Rakyat Papua (MRP) kepada media ini saat ditemui dikediamannya di Abepura pada hari sabtu,(08/03/2020), dirinya mengatakan bahwa apa yang disampaikan oleh rekannya, Ketua Pokja Agama MRP, Yoel Mulait adalah benar adanya.

” Miras memang musuh kita bersama, karena efek dari minuman berhalkohol ini menimbulkan kecanduan, keributan, penganiyaan, pembunuhan, perampokan, pemerkosaan dan juga kecelakaan lalu lintas yang hampir setiap hari terjadi dimana-mana dan pengaruhnya pasti Miras.

Disini saya mau katakan kepada Adik-adik wartawan semua, bahwa bukan minumannya yang salah, tetapi kesalahannya itu ada di Masing-masing orang. Juga saya berpikir begini dengan adanya minuman keras ini, menjadi suatu tantangan iman bagi kita umat yang percaya akan Tuhan.

Bagaimana kita mampu merefleksikan dan mengimplementasikan Nilai-nilai kebenaran itu didalam pergaulan dan cara hidup kita setiap hari dengan sebuah komitmen diri bahwa; saya tidak akan menyentuh dan terpengaruh dengan tawaran keadaan yang mengharuskan saya untuk mencoba minuman yang memabukan itu. Karena dampaknya tidak baik bagi kesehatan kita dan dapat mempengaruhi akal sehat kita, akhirnya kita bisa buat keributan dan kekacauan,’ bilang Herman.

Dirinya menambahkan bahwa kita tidak bisa seenaknya saja memvonis orang dan usahanya, apalagi memaksa kehendak kita untuk menutup usaha mereka itu.

” Ini adalah hak hidup warga negara, kalau kita memaksa kehendak kita untuk menutup dan mencabut semua ijin usaha yang diberikan, serta memberhentikan semua aktivitas miras ini, berarti kitapulah sudah melanggar HAM, karena memaksa oran lain (pengusaha) untuk mengikuti keinginan kita. Padahal kita secara tidak sadar telah merugikan dan mengecewakan orang lain.

Memang benar tujuannya demi menyelamatkan orang Papua, terlebih generasi muda kita, tetapi logikanya kembali ke pribadi kita Masing-masing. Kalau untuk Anak-anak kita yang selalu buat cemas orang tua, karena terpengaruh dengan lingkungan, dalam hal ini saya pikir kembali ke orang tua.

Didikan disiplin, nasehat, teguran dan bimbingan yang baik didalam keluarga terhadap anak, akan menciptakan ahklak anak yang baik pulah, yang menghargai kaidah dan norma, terlebih kehidupan yang penuh takut akan Tuhanlah yang akan mewarnai prilaku dan gaya hidup Anak-anak kita itu,” tutur Herman.

Saya sama sekali tidak dipihak pengusaha miras ini, tetapi kacamata iman saya berkata seperti itu. Saya juga mendengar informasi bahwa kebijakan Gubernur Papua Lukas Enembe yang sudah menanda tangani pakta integritas soal larangan Miras beberapa waktu lalu itu tidak di ikuti oleh Bupati dan Walikota.

Saya kira ada alasan-alasan tertentu yang membuat Bupati dan Walikota tidak mengikuti pakta integritas yang telah ditanda tangani oleh Gubernur Papua.

Mungkin salah satunya yang tadi saya sampaikan, itu bisa jadi sebuah alasan konkrit. Intinya kembali ke masyarakat, kembali ke person manusianya.” Ujar Herman.

Lagi menurutnya kita jangan fokus pada minuman keras (Miras) yang penjualannya telah ada dan berjalan puluhan tahun dan telah di uji dan diukur kadar alkoholnya di BP POM Provinsi, sehingga bisa di nyatakan layak untuk di jual.

Yang saya mau katakan bahwa yang lebih berbahaya adalah minuman lokal yang di buat oleh kita sendiri, seperti Slim.

Minuman ini kan belum di ukur kadar alkoholnya, apa layak untuk di jual atau tidak, efeknya untuk kesehatan bagaimana, apa berbahaya atau tidak.
Baru-baru inikan ada beberapa kasus kematian yang disebabkan oleh minuman keras “Slim”

Slim ini katanya di jual sembunyi-sembunyi, menurut informasi yang saya dapat, biasanya mereka jual dirumah ditempat mereka membuatnya. Juga warnanya itu mirip seperti minuman Cap Tikus (CT), dan biasanya di isi didalam botol plastik aqua sedang, untuk mengelabui orang, sehingga banyak yang tidak tauh kalau itu minuman keras buatan lokal.

Herman menambahkan bahwa kita jangan fokus pada pembasmian Miras, pemberhentian distribusinya, pencabutan ijin usahanya, akan tetapi kalau bisa fokus kita itu pada pembaharuan karakter masyarakat, yakni memberikan pemahaman dan pengajaran kepada masyarakat, dalam hal ini para pengkonsumsi miras.

” Coba kita lihat di Jawa sana, penjualan Miras ini ada di mana-mana, tetapi tidak di ributkan. Di Jakarta sana orang bebas menjual minuman, tetapi jarang sekali kita jumpai orang mabuk, atau kita dengar ada kejahatan dan kecelakaan lalu lintas yang pengaruhnya Miras.

Kenapa, karena kesadaran dan pengertian mereka terhadap minuman ber alkohol itu tinggi, mereka paham betul efek dari minuman itu, akhirnya jarang kita jumpai ada orang mabuk dipinggir-pinggir jalan, seperti kita di Papua.” Bilang anggota Pokja Adat, Majelis Rakyat Papua (MRP) dikediamannya, seraya mengakhiri. (Nando)

News Feed