by

Opini: Saya Bangga Jadi Wartawan

-Ragam-656 views

Medio 1990-an, saya mulai aktif mendalami dunia menulis. Kecintaan saya mulai tumbuh seiring dengan dorongan yang kuat pada dunia seni sastra, dalam hal ini membaca dan menulis puisi, cerpen, maupun essei, serta apresiasi terhadap seni panggung pertunjukan.

Saya mulai mencintai puisi sebagai seorang deklamator dimulai sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Dari sanalah kegairahan serta rasa keingintahuan untuk mendalami sastra bergejolak.

Sekedar menyebutkan beberapa nama yang sangat mempengaruhi kecintaan saya pada sastra, khususnya pembacaan puisi dan penulisan sastra, yakni Thamrin Effendi, Djuhardi Basri, Anshori Djausal, Rifian A. Cheppy, Ari Pahala Hutabarat, Ahmad Yulden Erwin, hingga Iswadi Pratama.

Masa yanga paling mengesankan saat saya semakin mendalami dunia sastra ketika saya tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni (UKMBS) Universitas Lampung Divisi Teater dan Sastra.

Dari kelompok studi di sanalah, saya terus mengembangkan diri dan akhirnya di awal tahun 2007, saya memutuskan untuk kembali ke kampung halaman tercinta, Kotabumi, Lampung Utara.

Sebelumnya, saya mulai meniti karir dalam atmosfer pers di Lampung melalui Tabloid Reaksi. Tabloid ini merupakan informasi yang dikelola Bagian Humas Universitas Lampung. Lalu, saya mulai menapak melalui Surat Kabar Harian Radar Lampung sebagai seorang copy editor, sekitar tahun 1999.

Dari proses pembelajaran yang saya peroleh di salah satu surat kabar harian yang cukup disegani di Bumi Sai Bumi Ghuwa Jurai ini, kecintaan saya terhadap dunia kewartawanan mulai terpupuk.

Kembali sekedar menyebutkan beberapa nama yang saya pikir telah membentuk diri saya untuk mendalami seluk-beluk kewartawanan, saya peroleh dari M. Nasir, Bang Acha (panggilan akrab Hi. Ardiansyah, SH, Pimum Radar Lampung ketika itu), Syahroni Yusuf, Nizwar, Ade Yunarso, juga Embun Putranto.

Dari sanalah saya merasa sangat bergairah menjalani kehidupan saat bersentuhan dengan beragam informasi yang setiap hari selalu ada yang baru.

Bagi saya, profesi wartawan adalah profesi yang sangat dinamis.

Seiring berjalannya waktu, profesi satu ini menjadi satu-satunya pilihan yang saya jalani hingga saat ini dan tercatat sebagai wartawan daerah di Lampung Utara dengan Media Siber www.sinarlampung.co sebagai perusahaan pers tempat saya bernaung.

Dibawah bimbingan Juniardi, S. Ip., M.H., saya terus mengasah kemampuan menulis serta mengolah informasi yang saya dapatkan untuk disajikan sebagai sebuah berita yang layak untuk dikonsumsi publik.

Satu-satunya pedoman yang saya pegang teguh, yakni dengan mempelajari, memahami, serta mengaplikasikan Kode Etik Jurnalistik dalm menunaikan tugas saya sebagai wartawan.

Dari sumber e-book yang saya peroleh melalui aplikasi gadget yang saya miliki dan saya download dari playstore pedoman berikut menjadi acuan yang terus saya baca berulang-ulang setiap ada kesempatan.

Berikut ini saya copypaste secara utuh isi dari aplikasi Kode Etik Jurnalistik yang saya maksudkan tersebut sebagai satu informasi dengan tujuan untuk saling berbagi.

“Kemerdekaan berpendapat, berekspresi, dan pers adalah hak asasi manusia yang dilindungi Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia PBB. Kemerdekaan pers adalah sarana masyarakat untuk memperoleh informasi dan berkomunikasi, guna memenuhi kebutuhan hakiki dan meningkatkan kualitas kehidupan manusia. Dalam mewujudkan kemerdekaan pers itu, wartawan Indonesia juga menyadari adanya kepentingan bangsa, tanggung jawab sosial, keberagaman masyarakat, dan norma-norma agama.

Dalam melaksanakan fungsi, hak, kewajiban dan peranannya, pers menghormati hak asasi setiap orang, karena itu pers dituntut profesional dan terbuka untuk dikontrol oleh masyarakat.

Untuk menjamin kemerdekaan pers dan memenuhi hak publik untuk memperoleh informasi yang benar, wartawan Indonesia memerlukan landasan moral dan etika profesi sebagai pedoman operasional dalam menjaga kepercayaan publik dan menegakkan integritas serta profesionalisme. Atas dasar itu, wartawan Indonesia menetapkan dan menaati Kode Etik Jurnalistik:

Pasal 1

Wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk.

Penafsiran

a. Independen berarti memberitakan peristiwa atau fakta sesuai dengan suara hati nurani tanpa campur tangan, paksaan, dan intervensi dari pihak lain termasuk pemilik perusahaan pers.

b. Akurat berarti dipercaya benar sesuai keadaan objektif ketika peristiwa terjadi.

c. Berimbang berarti semua pihak mendapat kesempatan setara.

d. Tidak beritikad buruk berarti tidak ada niat secara sengaja dan semata-mata untuk menimbulkan kerugian pihak lain.

Pasal 2

Wartawan Indonesia menempuh cara-cara yang profesional dalam melaksanakan tugas jurnalistik.

Penafsiran

Cara-cara yang profesional adalah:

a. menunjukkan identitas diri kepada narasumber;

b. menghormati hak privasi;

c. tidak menyuap;

d. menghasilkan berita yang faktual dan jelas sumbernya;

e. rekayasa pengambilan dan pemuatan atau penyiaran gambar, foto, suara dilengkapi dengan keterangan tentang sumber dan ditampilkan secara berimbang;

f. menghormati pengalaman traumatik narasumber dalam penyajian gambar, foto, suara;

g. tidak melakukan plagiat, termasuk menyatakan hasil liputan wartawan lain sebagai karya sendiri;

h. penggunaan cara-cara tertentu dapat dipertimbangkan untuk peliputan berita investigasi bagi kepentingan publik.

Pasal 3

Wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah.

Penafsiran

a. Menguji informasi berarti melakukan check and recheck tentang kebenaran informasi itu.

b. Berimbang adalah memberikan ruang atau waktu pemberitaan kepada masing-masing pihak secara proporsional.

c. Opini yang menghakimi adalah pendapat pribadi wartawan. Hal ini berbeda dengan opini interpretatif, yaitu pendapat yang berupa interpretasi wartawan atas fakta.

d. Asas praduga tak bersalah adalah prinsip tidak menghakimi seseorang.

Pasal 4

Wartawan Indonesia tidak membuat berita bohong, fitnah, sadis, dan cabul.

Penafsiran

a. Bohong berarti sesuatu yang sudah diketahui sebelumnya oleh wartawan sebagai hal yang tidak sesuai dengan fakta yang terjadi.

b. Fitnah berarti tuduhan tanpa dasar yang dilakukan secara sengaja dengan niat buruk.

c. Sadis berarti kejam dan tidak mengenal belas kasihan.

d. Cabul berarti penggambaran tingkah laku secara erotis dengan foto, gambar, suara, grafis atau tulisan yang semata-mata untuk membangkitkan nafsu birahi.

e. Dalam penyiaran gambar dan suara dari arsip, wartawan mencantumkan waktu pengambilan gambar dan suara.

Pasal 5

Wartawan Indonesia tidak menyebutkan dan menyiarkan identitas korban kejahatan susila dan tidak menyebutkan identitas anak yang menjadi pelaku kejahatan.

Penafsiran

a. Identitas adalah semua data dan informasi yang menyangkut diri seseorang yang memudahkan orang lain untuk melacak.

b. Anak adalah seorang yang berusia kurang dari 16 tahun dan belum menikah.

Pasal 6

Wartawan Indonesia tidak menyalahgunakan profesi dan tidak menerima suap.

Penafsiran

a. Menyalahgunakan profesi adalah segala tindakan yang mengambil keuntungan pribadi atas informasi yang diperoleh saat bertugas sebelum informasi tersebut menjadi pengetahuan umum.

b. Suap adalah segala pemberian dalam bentuk uang, benda atau fasilitas dari pihak lain yang mempengaruhi independensi.

Pasal 7

Wartawan Indonesia memiliki hak tolak untuk melindungi narasumber yang tidak bersedia diketahui identitas maupun keberadaannya, menghargai ketentuan embargo, informasi latar belakang, dan off the record sesuai dengan kesepakatan.

Penafsiran

a. Hak tolak adalak hak untuk tidak mengungkapkan identitas dan keberadaan narasumber demi keamanan narasumber dan keluarganya.

b. Embargo adalah penundaan pemuatan atau penyiaran berita sesuai dengan permintaan narasumber.

c. Informasi latar belakang adalah segala informasi atau data dari narasumber yang disiarkan atau diberitakan tanpa menyebutkan narasumbernya.

d. Off the record adalah segala informasi atau data dari narasumber yang tidak boleh disiarkan atau diberitakan.

Pasal 8

Wartawan Indonesia tidak menulis atau menyiarkan berita berdasarkan prasangka atau diskriminasi terhadap seseorang atas dasar perbedaan suku, ras, warna kulit, agama, jenis kelamin, dan bahasa serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa atau cacat jasmani.

Penafsiran

a. Prasangka adalah anggapan yang kurang baik mengenai sesuatu sebelum mengetahui secara jelas.

b. Diskriminasi adalah pembedaan perlakuan.

Pasal 9

Wartawan Indonesia menghormati hak narasumber tentang kehidupan pribadinya, kecuali untuk kepentingan publik.

Penafsiran

a. Menghormati hak narasumber adalah sikap menahan diri dan berhati-hati.

b. Kehidupan pribadi adalah segala segi kehidupan seseorang dan keluarganya selain yang terkait dengan kepentingan publik.

Pasal 10

Wartawan Indonesia segera mencabut, meralat, dan memperbaiki berita yang keliru dan tidak akurat disertai dengan permintaan maaf kepada pembaca, pendengar, dan atau pemirsa.

Penafsiran

a. Segera berarti tindakan dalam waktu secepat mungkin, baik karena ada maupun tidak ada teguran dari pihak luar.

b. Permintaan maaf disampaikan apabila kesalahan terkait dengan substansi pokok.

Pasal 11

Wartawan Indonesia melayani hak jawab dan hak koreksi secara proporsional.

Penafsiran

a. Hak jawab adalah hak seseorang atau sekelompok orang untuk memberikan tanggapan atau sanggahan terhadap pemberitaan berupa fakta yang merugikan nama baiknya.

b. Hak koreksi adalah hak setiap orang untuk membetulkan kekeliruan informasi yang diberitakan oleh pers, baik tentang dirinya maupun tentang orang lain.

c. Proporsional berarti setara dengan bagian berita yang perlu diperbaiki.”

Saat ini, era digitalisasi telah merangsek dan menguasai hampir setiap sendi kehidupan manusia dalam memenuhi kebutuhannya. Perkembangan teknologi informasi pun demikian pesat hingga memberikan berbagai kemudahan manusia untuk memperoleh informasi.

Kebutuhan akan informasi dalam hal ini berita yang semula didapati melalui koran cetak dan sejenisnya secara perlahan namun pasti tergerus oleh pertumbuhan media dalam jaringan (daring).

Pesatnya pertumbuhan media yang familiar dengan sebutan media online pun beriringan dengan profesi wartawan menjadi sebagai salah satu pilihan profesi favorit yang diambil banyak orang, termasuk di Kabupaten Lampung Utara.

Dan bagi saya, ini keren.

Profesi wartawan menjadi solusi saat masyarakat membutuhkan lahan pekerjaan yang semakin sempit.

Meski demikian, secara pribadi ada banyak hal yang harus dipelajari dan dikuasai secara mendalam.

Apa itu? Menulis berita dengan cara yang komunikatif, baik dan benar, serta jujur. Dan ini bersifat mutlak.

Oleh karena itulah, saya bangga menjadi wartawan.**

Oleh: Ardiansyah, penulis adalah wartawan Media Siber www.sinarlampung.co Biro Lampung Utara dan Ketua SMSI Lampung Utara.

News Feed