by

Agustinus Pofai: Pak Indra Figur Pejabat yang Baik, Harus Dipertahankan

-Ragam-392 views

KPK | Keerom Papua – Agustinus Pofai saat berjumpa dengan wartawan koran pemberitaan korupsi di depan kantor Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) kabupaten Keerom (17/12) siang tadi, menyatakan kekaguman dan respectnya atas figur Trisiswanda Indra selaku kepala OPD tersebut.

Dirinya meminta sosok kepala BPKAD yang sudah familiar disapa Indra, supaya tetap menjabat posisi BUD dan menjadi pimpinan instansi BPKAD Keerom. Menurut Agus, sosok seperti kepala BPKAD yang saat ini menjabat, memang langka jika menelisik soal kharakteristik pelayanan publik dan sifat pribadi sebagai seorang manusia.

Hal itu diungkapkannya secara gamblang, karena menurutnya, dia sendiri memantau bagaimana pelayanan publik di BPAKD. Yaitu dalam hal menerima tamu kepala badan sendiri, termasuk dalam hal memberi respon sosial terhadap siapa saja yang datang meminta bantuan di OPD itu.

“Tidak gampang dapat sosok pejabat seperti pak Indra saya terus terang mau kasih tahu. Saya bukan bicara semata-mata sebagai ASN yang mendukung sesama teman pegawai, tapi ini saya bicara sebagai orang adat dan masyarakat biasa.

Pak Indra itu figur pejabat publik yang baik. Kami kagum dengan gaya pelayanan publiknya jika dia anda di kantor. Sebagai ketua Adat 4 suku di Keerom, saya minta pak Indra tetap harus dipertahankan!.

Kita datang di kantor BPKAD ini dan melihat sendiri bagaimana pelayanan publik di sini. Saya secara pribadi sangat kagum dan sangat bersyukur pak Bupati Keerom bisa menempatkan beliau di BPKAD. Pak Indra ini sudah terbukti banyak membantu orang. Sifat kasihnya ini yang luar biasa kami lihat.” Bilang Agus menekan.

Selain menyinggung kebaikan dan kharakteristik (gaya) pelayanan publik seorang Trisiswanda sebagai orang nomor satu (1) di BPKAD, Agus yang memimpin 4 suku; suku Enem, suku Tera, suku Yepsa, dan suku Nunwe yang mencakup 4 Distrik: Distrik Web, Yabsi, Kesnar, dan Towe, juga membantah adanya dugaan temuan soal dan Hibah-Bansos.

Pasalnya, hemat pemuda asli Keerom ini, dia merasa bila temuan tersebut benar-benar ada, sumbernya datang dari masyarakat atau siapa pun yang sudah pernah menerima bantuan (berupa dana). Agus tegas bilamana ada tudingan kalau ada indikasi korupsi atas pengelolaan Dana Hibah-Bansos tersebut.

“Hemat saya, tidak benar jika ada korupsi soal Hibah-Bansos di Pemda Keerom. Siapa yang korupsi?. Ini pertanyaan. Kalau bilang masyarakat atau siapa-siapa yang sudah menerima bantuan-bantuan dana tersebut yang justru tidak balik membuat laporan pertanggung-jawabannya boleh banyak.

Kita ini jangan sebarangan menduga yang bukan-bukanlah. Mana buktinya?. Kalau bilang pak Indra dan instasinya itu malah berbuat baik buat tolong banyak orang itu boleh kami akui. Faktanya banyak orang yang sudah dibantu dari dua sumber dana itu tapi tak pernah berikan bukti pertanggung-jawabannya kan?.

Buat masyarakat yang sudah dibantu termasuk ASN, baik secara lembaga maupun pribadi-pribadi, tolong supaya juga membantu kepala BPKAD dan jajarannya, yaitu dengan membuat bukti penggunaan uangnya. Jangan karena persoalan administrasi saja lalu dicurigai yang bukan-bukan kalau ada korupsi di BPKAD.” Seru Agus kepada awak KPK tegas.

Lagi kata ketua empat suku di Keerom ini, dia membantah sejumlah tudingan atau dugaan yang sudah beberapa kali digaungkan beberapa LSM. Agus tidak begitu sependapat kalau anggaran Hibah dan Bansos di Keerom dikelola salah. Walaupun ada, tambahnya, tidak mungkin sampai mencapai angka seperti yang disebut-sebutkan.

“Jujur saya secara pribadi sama sekali tidak setuju dengan adanya temuan dengan angka yang besar sampai mencapai milyaran kaya begitu. Apalagi kalau sampai mengarah ke dugaan korupsi yang hanya melibatkan dua tiga orang.

Soal Hibah dan Bansos di Keerom saya mau kasih tahu, banyak sekali orang yang Pemda Keerom dalam hal ini Bupati dan Kepala BPKAD-nya bantu. Ini soal respon dan tanggung jawab sosial kemanusiaan. Bagaimana orang susah tidak bisa dibantu?. Pak Indra itu orangnya ringan tangan dan punya kasih yang luar biasa.

Jadi menurut saya pribadi bersama warga masyarakat kami yang sudah pernah dibantu pak Bupati, atau dibantu pak Indra di kantor BPKAD ini, persoalannya hanya secara administrasi saja menurut pengamatan saya. Tolong dicatat hal ini.

Masyarakat awam ini kan mereka tidak tahu cara bagaimana bikin pertanggung-jawaban atas uang Bansos atau Hibah yang sudah mereka terima. Jadi publik, LSM dan terlebih pihak pemeriksa dan penyidik, saya sarankan lihat dan perhitungkan dulu hal ini secara baik. Jangan buru-buru menetapkan seseorang bersalah.” Pesan Agus.

Dikonfirmasi salah seorang dari masyarakat bernama Demas Plakai, pemuda asli Keerom dari distrik Senggi ini melalui kontak telepon siang tadi juga membenarkan pernyataan Agustinus Pofai. Demas dalam penjelasannya turut mengakui kebaikan hati pelayanan publik kepala BPKAD Keerom, Indra.

“Saya senang dengan cara pelayanan publik dari bapak Indra. Dia beda dari figur pejabat yang lain. Orangnya memang ramah, rendah hati dan terbuka buat siapa saja yang datang. Yang paling buat kita sanjung beliau, yaitu kebaikannya. Beliau orangnya sangat ringan tangan dan murah hati kepada semua orang yang datang di kantornya buat minta bantu.

Kalau kita datang baru agak lama untuk dipanggil ke dalam beliau (kaban, red) punya ruangan, ya kita juga harus memahami to?!. Mungkin beliau punya kesibukan yang padat dan lain sebagainya. Juga kita harus menghargai hari-hari tamu yang sudah ditetapkan kan?.

Kalau beliau tidak ada di kantor, pasti ada urusan dinas yang penting keluar. Intinya kita tetap bersabar dan tidak mengeluh. Jika beliau ada di kantor dan berhasil ketemu atau kasih surat, atau sampaikan secara lisan maksud kita, umumnya pasti beliau bantu.” Terang Agus mengisahkan pengalamannya melihat pelayanan publik kepala BPKAD beserta stafnya. {Crew: •Nando, Michael, Jeffry~Kaperwil•}

News Feed