by

Seruan Pdt Alberth Yoku di Bulan Suci Desember 2019

-Ragam-389 views

KPK | Jayapura, Papua – Memasuki dan menjalani bulan suci Desember sampai tanggal 25 untuk umat kristiani yang kian mendekat, Pdt. Albert Yoku selaku mantan ketua Sinode GKI mengimbau kepada seluruh umat Tuhan di Tanah Papua, agar memperhatikan Jadwal Hari-hari Ibadah yang telah diatur.

Alberth juga berpesan agar umat Tuhan yang ada di Negeri Susu dan Madu (bumi Cenderawasih Papua),  agar selalu berusaha terlibat aktif dalam setiap kegiatan kerohanian menjelang Natal dan Tahun Baru, Jumat (29/11/2019).

“Bulan November ini adalah bulan Pastoral atau bulan Konseling. Mendekati bulan Desember ini kita harus mempersiapkan diri untuk menyambut kelahiran Tuhan Yesus Kristus.

Kita diharuskan membuka hati dan membuka pintu rumah untuk dilayani, oleh Majelis Gereja yg sudah dipilih untuk melayani. Jangan menutup diri dan keraskan hati untuk menerima pelayanan yang datang di rumah kita nantinya.

Tujuannya agar tidak tidak ada persoalan yang membebani dan terbawa sampai masuk di tahun yang baru, agar hati kita dipenuhi dengan rasa damai, sukacita dan kebahagiaan untuk menyambut Sang Putra Natal, Juruselamat kita.” Ucap Hamba Tuhan Alberth Yoku.

Pada kesempatan yang sama pula, Pdt. Alberth pun turut memberikan apresiasi kepada pemerintah dan bangsa Republik Indonesia, yang mana sudah bersama melewati semua situasi di Tanah Papua, hingga sebentar lagi tiba di ujung tahun 2019 ini.

“Kita sangat bersyukur sebagai anak Papua, karena pemerintah telah mengambil langkah-langkah akomodatif, di mana kita orang Papua adalah orang Indonesia yang diberikan kepercayaan, untuk bersama membangun bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini,” tambahnya.

Pendeta Yoku juga mengajak serta menghimbau kepada seluruh masyarakat di Tanah Papua, agar meninggalkan agenda-agenda yang dapat merusak perayaan Hari Natal dan Tahun Baru nanti.

Di antaranya, termasuk hal-hal yang sifatnya ajakan, provokasi dan demo-demo atau unjuk rasa. Semuanya menurut Pendeta, harus ditinggalkan. Alasannya, karena hanya akan merusak iman dan merugikan diri sendiri.

“Setiap persoalan harus di tanggapi secara dewasa, disertai perasaan takut akan Tuhan. Mari kita utamakan Tuhan, utamakan keselamatan kita di Sorga nanti, yaitu dengan cara hidup di dalam kebenaran Firman-Nya sendiri (Tuhan, red) dan berjuang untuk mendapatkan keselamatan itu.” Tutup Alberth. (Crew; Nando, Jeffry, R.W~Kaperwil Papua).

News Feed