by

Opini: Upaya Menurunkan Angka Kematian Ibu di Indonesia

-Ragam-243 views

KoranPemberitaanKorupsi.com | Angka Kematian Ibu (AKI) masih menjadi salah satu masalah besar di indonesia, dari data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 1990 ada 390 perempuan meninggal dunia di setiap 100 ribu kelahiran di Indonesia. Angka tersebut turun perlahan hingga 305 pada 2015. Target MDGs 2015 untuk angka kematian Ibu adalah menurunkan rasio hingga tiga perempat dari angka tahun 1990 yaitu sekitar 110 kematian ibu di setiap 100 ribu kelahiran.

Definisi kematian ibu adalah kematian seorang wanita saat hamil atau sampai 42 hari pasca persalinan, terlepas dari penyebab kematiannya namun bukan oleh karena penyebab kecelakaan atau incidental (WHO).

Walaupun sampai saat ini Indonesia masih berkutat di atas angka 305 per 100 ribu kelahiran. Sebagai perbandingan, Malaysia telah menurunkan AKI hingga 45 persen dalam 20 tahun terakhir, begitu pun angka kematian ibu di dunia. AKI menurut WHO dihitung dari kematian perempuan yang terjadi selama hamil atau 42 hari setelah berakhirnya kehamilan akibat semua sebab yang terkait atau diperberat oleh kehamilan atau penanganannya.

Oleh karena itu pemerintah dalam mencapai target SDG’s perlu upaya yang lebih besar dan terintegrasi. Sektor Kesehatan dalam SDG’s terdapat 4 Goals, 19 target dan 31 indikator. Dimana Angka Kematian Ibu terdapat pada Goals ketiga yaitu menjamin kehidupan yang sehat dan mendorong kesejahteraan bagi semua orang di segala usia pada tahun 2030. Target SDG’s sendiri yaitu mengurangi AKI hingga di bawah 70 per 100 ribu kelahiran hidup.

Dalam dunia kebidanan, penyebab kematian ibu dirumuskan sebagai 4 Terlalu 3 Terlambat, yaitu: Terlalu muda (melahirkan usia < 20 tahun) Terlalu tua (melahirkan usia >35 tahun) Terlalu sering atau banyak anaknya (>3 anak) Terlalu dekat jarak kelahirannya (< 2 tahun) sedangkan 3 Terlambat yaitu Terlambat mengambil keputusan Terlambat sampai di fasilitas kesehatan dan Terlambat mendapatkan pertolongan yang adekuat, karena sudah terlambat sampai sehingga dalam penanganannya pun terlambat juga. Laporan evaluasi MDGs menyebutkan bahwa pemerintah pusat sebetulnya telah melatih banyak bidan, dan mengirim mereka ke seluruh penjuru Indonesia. Namun sepertinya pemerintah daerah tidak menganggap hal tersebut sebagai prioritas, dan tidak memperkerjakan para bidan kembali setelah berakhirnya kontrak mereka dengan Departemen Kesehatan, kata Stalker.

Sehingga peran bidanlah yang menjadi ujung tombak dalam upaya menurunkan AKI ini, salah satu upaya bidan adalah dengan mendeteksi dini resiko yang mungkin terjadi pada ibu hamil sehingga resiko–resiko penyakit yang dapat meneyertai ibu hamil dapat di deteksi secara dini, mendorong program KB sehingga jarak kelahiran bisa diatur, serta menerapkan kemitraan antara bidan dan dukun setempat,

Karena tidak dapat dipungkiri masih banyak sekali di era milenial ini atau di dearah pedesaan khususnya masyarakat lebih memilih dukun sebagai penolong persalinannya sehingga bidan perlu bermitra dengan dukun agar ibu hamil tetap dapat dipantau oleh bidan dan ditolong persalinannya oleh tenaga kesehatan sehingga resiko kematian ibu di Indonesia dapat ditekan sehingga tercapailah tujuan SDG’s pada tahun 2030.

Oleh: Irma Dewi, Penulis adalah mahasiswa pascasarjana kesehatan masyarakat STIKIM Jakarta

News Feed