by

Ada Apa Kajati Kodomo Tak Tanggapi Konfirmasi LSM dan Media?

-Daerah-825 views

KPK | Jayapura Papua – Sudah menjadi hal biasa jika seseorang akan merasa senang, bangga, bersyukur dan berterimakasih, manakala dipromosikan sebuah jabatan atau mendapat prestasi dan penghargaan, dengan penganugerahan sebuah jabatan satu tingkat di atasnya.

Dalam hal spikologi, seseorang yang sedang dalam kondisi happy,  meskipun dengan pemberian sebuah posisi jabatan baru yang jelas akan disertai beban tugas, tanggung jawab dan kerja yang besar pula, pasti figur pejabat yang baru dilantik tersebut akan ramah, santun dan hatinya merasa senang.

Tentu berbeda apabila pribadi pejabat itu sedang berada dalam suasana hati yang lagi dongkol, atau emosi karena suatu masalah yang tengah dihadapinya. Begitu pun jika sedang mengalami kondisi tubuh jasmani yang lagi drop atau sakit, atau bahkan jika kurang enak badan.

Tanggal 18 November 2019 senin lalu, seperti diketahui publik Nasional dan Papua, khususnya pembaca setia media Koran Pemberitaan Korupsi {diakronimkan dengan sebutan media KPK} ini, Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi (WAKAJATI) Papua yang sudah resmi mendapat pemberian jabatan setingkat di atasnya karena prestasi, akhirnya berhasil dipilih dan dilantik menjadi Kepala Kejaksaan Tinggi Papua.

Nikolaus Kodomo, SH. MH tepatnya. Sosok orang asli Papua yang tampil mengharumkan nama besar putera-puteri asli Papua, karena bisa menduduki kursi “01” lembaga Yudikatif-Kejaksaan Tinggi Papua untuk pertama kalinya ini, memang patut diacungi jempol.

Sayangnya, di tengah senangnya masyarakat Papua karena figur OAP yang naik jadi Kajati, mengawali masa kerja Nikolaus Kodomo yang pertama kali ini, komunikasi ITE via Whatsapp yang sudah dilayangkan 2 LSM dan 2 media tidak ditanggapi Kajati sama sekali.

Berikut pernyataan sekaligus unek-unek kedua tokoh LSM resmi yang terdaftar di instansi Kesbangpol Provinsi Papua, yang kerap tampil bersuara menentang korupsi di Papua. Yakni; LSM BARISAN RAKYAT PEDULI NUSANTARA yang disingkat (BARAPEN), dan LSM WADAH GERAKAN ANAK BANGSA atau {WGAB} Provinsi Papua.

Edison Suebu, SH;

“Jika bapak Kajati yang adalah masyarakat kita orang asli Papua ini menghargai LSM, pasti tidak akan lama beliau balas pesan saya yang saya kirim melalui WA beberapa hari lalu, karena tanda centangnya sudah berwarna biru. Kan artinya dia sudah lihat, dan kami yakin pasti beliau sudah baca juga pesannya.

Baru mengawali kinerjanya sebagai Kajati Papua kok sudah begitu?. Sesibuk apapun atau secapek apa pun, balas pesan singkat barang 2 atau 3 menit saja tidak bisa kah?. Tulis saja misalnya; “ade dorang di LSM, bapak ada sibuk atau kelelahan jadi bisa sabar berapa hari kah?. Nanti bapak hubungi.”

Ini tidak sama sekali sampai sudah berapa hari ini. Aneh!. Sewaktu beliau masih Wakajati, kami LSM BARAPEN dan WGAB melalui media nasional juga sudah menyerukan agar pak Kodomolah yang harus diperhatikan Pemerintah Pusat, untuk jadi Kajati Papua.

Kami merasa senang dengan beliau. Kenapa?. Karena dia sosok putera asli Papua. Kami sangat sekali berharap supaya dengan hadirnya pak Kodomo sebagai Kajati Papua, kita bisa bersinergi baik LSM, Media, dan beliau selaku Kajati bersama Jajarannya, untuk bersama-sama kita membantu NKRI memberantas Korupsi itu sendiri di tanah Papua.

Bukan cuma kami di dua LSM ini saja. Seruan dan harapan kami ini juga kami sampaikan untuk LSM-LSM yang lain di Papua, khususnya yang punya semangat bersuara yang sama untuk berjuang melawan korupsi yang masih mewabah di birokrasi Pemda di Papua, yang dilakukan oleh oknum-oknum elit tertentu.

Di awal melaksanakan tugas saja sudah begini, apalagi dalam perjalanan ke depan pak Kodomo jadi Kajati Papua. Kami curiga jangan-jangan beliau akan menghindar dan tertutup kepada LSM dan juga awak media jika mau konfirmasi terkait korupsi. Saya sebagai ketua LSM BARAPEN punya rasa curiga, ini sekaligus saran positif buat pak Kajati yang baru.

Ya saya berharap bapak Kajati Papua bekerja dan memimpin dengan jujur, adil, transparan dan takut akan Tuhan. Kami di BARAPEN cuma pesan satu; kalau ada kasus korupsi yang ditinggalkan Kajati lama, tolong supaya di era pak Kodomo bisa dilanjutkan untuk diproses ke Pengadilan Tipikor, agar ada efek jera bagi oknum-oknum koruptornya.

Terakhir dari saya sebagai pimpinan LSM BARAPEN, kami sangat berharap tidak ada kasus-kasus titipan (korupsi, red), yang sengaja dipelihara untuk melindungi oknum-oknum elit tertentu, entah siapa saja. Apakah mungkin karena faktor persahabatan, hukum yang sudah dibeli, kekuasaan politik, kami tidak tahu. Tuhan sajalah yang tahu.

Dan untuk kasus dugaan korupsi dana Hibah dan Bansos di kabupaten Keerom, kami minta pihak Kejati Papua segera mengumumkan hasil lidik dan sidiknya. Lo itu kan janji kepala seksi Penyidikan Tipikornya sendiri bulan juli lalu, yaitu bapak Nixon Mahuze. Beliau janji dalam waktu dekat kok bisa sampai 5 bulan mau mejelang 6 bulan?.

Yang kedua kasusnya, yaitu di kabupaten Kaimana. Kami sangat meminta transparansi bapak Kajati, tentang kelanjutan perkembangan kasus dugaan korupsi pada Proyek Peningkatan Bandara Utarom. Sudah sejauh mana?, hasilnya bagaimana?. Ini kan membingungkan kami dan tidak jelas.” Urai Edy mengemukakan pendapatnya kepada media ini.

Yerry Basri Mak, SH {WGAB};

“Kami sendiri juga sudah sampaikan surat tertulis ke Kajati Papua yang lama, untuk mempertanyakan soal penetapan kasus dugaan korupsi Hibah dan Bansos di Keerom beberapa waktu lalu. Kenapa sampai sekarang sudah ada pergantian Kajati juga tapi belum ada tanggapan ke kami di LSM ya?.

Ini ada apa?. Saya sebagai pimpinan LSM WGAB juga merasa aneh dengan sikap bapak Nikolaus Kodomo selaku Kajati Papua yang baru, di mana sampai dengan sekarang permohonan kami di WA beliau tidak gubris sama sekali, padahal sudah centang warna biru. Publik figur kok bisa punya sikap kaya begitu?.

Baru start saja sudah terkesan menyepelekan LSM begini saya ragu sekali. Apakah penanganan korupsi di Papua dan Papua Barat akan mulus, lancar dan maksimal seratus persen di bawah komando pak Kodomo?.

Waktu saya kirim pesan ucapan selamat atas pelantikannya sebagai Kajati Papua yang adalah orang asli Papua atau OAP, beliau sempat balas. Tapi begitu saya minta konfirmasi atau penjelasan tentang dua kasus tadi, pak Kajati seakan tak mau menggubris penyampaian saya via WA. Wah saya sebagai pimpinan LSM sangat kecewa sekali dengan sikap beliau.

Menyungguhkan apa yang disampaikan oleh ketua LSM BARAPEN tadi, saya juga meminta dan mendesak pihak Kejaksaan Tinggi Papua di bawah pimpinan bapak Kajati Papua yang baru, supaya segera umumkan TSK biar kami dengar sendiri.

Sudah ada Tersangka atau TSK buat kasus indikasi dugaan korupsi di Pemda Keerom tidak?. Masa kepala seksi Tipikor pak Nikson Mahuze sendiri berkata di media, bahwa dalam waktu dekat akan ditingkatkan kasusnya ke penyidikan kok belum sampai sekarang?.

Beliau harus menjelaskan kalimat “dalam waktu dekat” kami dengar. Pak Mahuze juga kan katakan “sekaligus menetapkan tersangkanya to?,”. Kok kenapa sampai sekarang nama-nama tersangkanya belum ditetapkan?. Sangat aneh memang.

Jadi menutup keterangan saya sebagai ketua WGAB, saya sekali lagi minta yang terhormat bapak Kajati segera umumkan nama-nama tersangka dalam kasus Hibah dan Bansos di Keerom, sekaligus juga memberikan kepastian serta hasil dari penanganan kasus dugaan korupsi proyek bandara Utarom di Kaimana.

Harapan dan permintaan kami LSM dan juga media tentunya, tolong bapak Kajati jabarkan ke publik Papua, tentang visi dan misi pribadi dan lembaganya, komitmen, juga tekadnya terhadap pemberantasan kasus-kasus korupsi itu sendiri di Papua. Kami butuh BUKTI bukan JANJI, untuk menuntaskan dan memberantas kasus-kasus korupsi di dua Provinsi yang ada di Papua.

Untuk diketahui, permintaan konfirmasi kepada Kepala Kejaksaan Tinggi Papua yang baru juga dilayangkan wartawan KPK, di hari yang sama (22/11). Persis seperti yang dirasa dua pucuk pimpinan lembaga independen itu, awak KPK pun sampai hari ini masih belum mendapat respon balasan dari kepala kejaksaan tinggi Papua, Kodomo sendiri.

Crew: •Michael, Orlando, Andy, Nando, Jeffry-Kaperwil Papua & Papua Barat.•

News Feed