by

Ramai Pengecer BBM di Kabupaten Sarmi, APMS Cepat Habis

-Daerah-833 views

KPK | Sentani Jayapura, Papua – Wartawan media nasional koran pemberitaan korupsi berencana meliput ke kabupaten Sarmi dalam waktu dekat, jika tidak mendapat halangan.

Tujuannya, agar dapat memantau secara langsung dari dekat, aktifitas penyaluran BBM Pertamina ke satu-satunya Agen Premium Minyak & Solar (APMS) yang berada di Sarmi kota, dan bagaimana kuotanya itu disalurkan ke masyarakat dan habis dalam beberapa jam saja.

Awal agustus 2019 lalu sewaktu dua orang awak KPK datang semalam di Kasukwe (nama tempat/kampung) di Sarmi, baik malamnya maupun di keesokan harinya, nampak terlihat jelas sekali maraknya penjualan BBM di setiap pinggiran jalan.

Penjualan Bahan Bakar Minyak {BBM} jenis Premium dan Pertalite, hampir menjadi sasaran bisnis utama para pedagang BBM, yang menjemput peluang minimnya APMS apalagi SPBU, yang cuma satu doang di Sarmi kota.

Lantas bagaimana tanggapan warga setempat sesaat dijumpai wartawan waktu itu?. Ternyata ada keluhan yang dikeluarkan dari bibir mulut mereka, terkait kelangkaan BBM (APMS yang tidak bisa beroperasi full time).

“Tidak buka lama-lama. Hanya beberapa jam saja kadang sudah tutup lagi APMS ini. Buka pun biasa antreannya panjang sekali. Yang terlambat ya tidak dapat.” Beber pria bernama Agus.

Salah seorang pemuda yang memperkenalkan namanya Jhon juga menyampaikan hal yang sama. Dia bahkan meminta ada ketambahan APMS atau pun dibuka lagi SPBU, agar bisa menjawab kebutuhan BBM hari-hari di Sarmi, dengan harga yang terjangkau.

“Tidak lama-lama dia (APMS) buka kak. Beberapa jam saja selesai dan pagar Pomp Bensin itu akan tutup kembali. Saya juga tidak tahu, kenapa sampai pomp bensin itu bisa cepat habis BBM-nya. Stoknya berapa liter saya tidak tahu.” Cetusnya.

Di Mararena ketika dijumpai salah seorang warga yang merupakan sanak saudara salah satu awak media ini, ibu muda berinisial ‘H’ itu menjelaskan kalau APMS sering habis disebabkan keperluan nelayan yang juga tinggi di Sarmi.

“Di pantai sana bisa nanti saudara dorang pergi dan lihat sendiri perahu-perahu yang ada, banyak sekali nelayan yang hidupnya bergantung di laut. Mereka juga butuh Bahan Bakar buat mencari.

Jadi BBM yang kadang masuk berapa hari sekali di Pomp Bensin, hanya mengisi tidak lama. Dia buka sebentar saja dan sudah tutup kembali. Dia isi buat kendaraan, juga buat kebutuhan nelayan.” Bilang H sedikit berdialek Papua.

Mengejutkannya, ada seorang pria paruh baya yang bersamaan di salah satu konter ketika membeli pulsa telepon, yang mengemukakan kecurigaannya kalau ada dugaan permainan dengan kuota BBM di APMS tersebut.

“Saya pribadi belum punya bukti, tapi sudah ada banyak orang yang mencurigai APMS kita ini. Sudah beberapa kali saya juga dengar, entah benar atau tidak.

Beberapa waktu lalu sempat saya dengar, bahwa APMS ini juga secara diam-diam ada lakukan penimbunan BBM dan penjualan BBM-nya ke Maberamo Raya, dan ke Perusahaan-perusahaan yang beroperasi di hutan.

Kalau benar kalian ini wartawan, silahkan saja cari tahu dan telusuri sendiri. Soal kelangkaan di APMS ini juga sudah pernah beberapa kali kalau tidak salah, ada kunjungan dari DPRD dan dari mana lagi, pokoknya dari pemda ke APMS itu.” Ungkap lelaki yang keberatan menyebutkan identitasnya ini.

Sayangnya, dua hari satu malam awak media nasional ini berada di Sarmi kota, APMS itu dikabarkan sudah melayani kemarinnya dan sudah kembali tutup seperti biasa.

Sejumlah informasi yang ditampung media ini saat di Sarmi, dari warga yang sengaja ditemui kebanyakan meminta supaya ada penambahan Pomp Bensin, khusus buat nelayan dan pedagang BBM eceran (Botolan dan Jerigen).

“Kami sangat berharap supaya ada pengusaha yang mau buka APMS lagi atau SPBU begitu, tambah APMS yang ada di Sarmi ini. Kalau bisa APMS buat nelayan secara khusus, dan juga buat para penjual BBM eceran yang pakai Botol dan Jerigen juga, biar tidak mengurangi stok buat kami masyarakat yang butuh buat kendaraan kami.

Mengonfirmasi persoalan maraknya BBM di Sarmi dengan keberadaan para pedagang Jerigenan dan Botolan, awak KPK mencoba menghubungi salah seorang bernama Haji Sadam yang memiliki sebuah toko besar di Sarmi kota.

Dari ponselnya dengan nomor: 0813421004XX, pria yang diketahui ada hubungannya dengan Owner (pemilik) APMS bernama Haji Bado itu, terkesan tak mau menjawab panggilan telepon maupun menjawab pertanyaan sms yang dikirimkan wartawan, kemarin siang (20/11).

Diketahui dari beberapa referensi sumber informasi media ini, APMS tersebut benar merupakan milik Haji Bado dengan perusahaannya bernama PT. Usaha Pangkep Mandiri, namun sudah dijalankan oleh anaknya sendiri bernama Haji Haling, bersama perusahaannya bernama PT. Sarmi Indah Mandiri.

{Crew: •Michael, Nando, Jeffry, R.W~Kaperwil)

News Feed