by

Diduga Program P3-TGAI Mekar Rahayu Leuwigoong Diperjual-Belikan

-Daerah-1,004 views

KPK | Garut – senin 9/9/2019 awak media kembali melakukan monitoring kelapangan, seputar kegiatan P3 – TGAI yang mana anggaranya bersumber dari APBN tahun 2019 mengakomodir usulan dari BBWS cimanuk cisanggarung.

“namun indikasi adanya dugaan praktek menyimpang pada program ini, sudah tercium sejak pencairan tahap pertama, kali ini awak media mengunjungi kegiatan yang dilaksanakan oleh p3a mekar rahayu, tepatnya didesa tambaksari kecamatan leuwigoong.

“Dilapangan awak media melihat ada yang sedang melakukan oknam, kelihatanya dari tim pendamping masyarakat (TPM) atau sebutan lainya.

“tanpa pikir panjang awak media menemui ketua p3a mekar rahayu yang bernama ASO, guna melakukan wawancara lebih dalam, terkait pelaksanaan program tersebut, dalam wawancaranya aso menerangkan, bahwa awalnya dia didatangi oleh seseorang yang berinisial (H), bahwa dirinya akan dimasukan sebagai pengurus p3a didesa tambaksarisebagai ketua. Awalnya aso bingung,namun karena H berhasil mempengaruhi aso,akhirnya diapun tak bisa berbuat apa-apa.

“sampai waktu pembuatan akta notarispun saya dibawa oleh H kekantor notaris disebuah tempat digarut ujar aso polos, dia juga sempat merasa aneh, sebuah lembaga p3a seharusnya semua pengurusnya berasal dari desa yang bersangkutan, namun peristiwa kali ini bendahara yang bernama herman, alamatnya diduga dari copong desa sukamentri ujar aso dengan tegas dan polos.

“singkat kata sampailah pada waktu pencairan, seperti biasa ketua dan bendahara harus hadir ke bank, setelah uang diterima uang tersebut langsung dibawa oleh bendahara, selanjutnya aso diperintah oleh H untuk mencari pekerja, dikarenakan pada saat pencairan sebelum tanggal 17 agustus, warga sekitar banyak yang berdagang bendera, sehingga aso kesulitan dalam mencari pekerja jelas aso.

“Karena kegiatan tersebut harus secepatnya dilaksanakan,akhirnya aso menghubungi salah satu rekanya,guna membantunya mencari pekerja,dan tak butun waktu lama iapun mendatangkan pekerja yang berasal dari kecamatan singajaya,dan pekerjaanpun sudah siap untuk dilaksanakan.

“Namun sebelum pekerjaan dilaksanakan, ada seorang pemborong dari garut yang berinisial (P) berjenis kelamin perempuan, menghubungi kades tambaksari yang bernama endang. sepertinya kades endang sudah mengenal (P) dan langsung bertanya, sebenarnya kegiatan tersebut didapat dari siapa? Tanya kades kepada P. Dan P menjawab, kegiatan itu dibelinya dari seseorang yang beriniasial (D) juga barasal dari seputar garut pungkas aso.

“untuk lebih jelasnya selasa awak media mendatangi kades endang ke kantor desa tambaksari kecamatan leuwigoong, guna untuk melakukan wawancara eksklusif, namun sangat disayangkan sang kades tidak berada ditempat,menurut keterangan pegawai desa, kades endang pagi tadi pergi ke garut, selanjutnya aparat desa tidak menjelaskan ada urusan apa sang kades ke kota garut.awak media mencoba menghubungi kades endang melalui sambungan telpon maupun wa,namun sampai berita ini ditayangkan,telfon seluler kades endang masih tidak dapat dihubungi.

“Peristiwa ini harus segera ditindak lanjuti oleh aparat yang berwenang seperti, bpkp, inspektorat bahkan kepolisian, karena apapun alasanya hang namanya program pemerintah, tidak ada yang membenarkan untuk diperjual belikan, karena praktek seperti ini sudah menjadi rahasia umum di garut, dalam kasus ini awak media menekankan kepada aparat penegak hukum(APH) garut, jangan sampai ada presepsi pembiaran, sehingga membuat masyarakat kembali tidak mempercayai institusi ini. Pewarta: Afsor/tim

News Feed