by

Praktisi Hukum Awalindo Kritisi Adanya Dugaan Praktik Mark-Up Lomba Kulintang

-Hukam-1,211 views

KoranPemberitaanKorupsi.com | Kotabumi – Anggaran yang di ajukan untuk dialokasikan dalam Program lomba kulintang di DPMD (Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa) kabupaten Lampung Utara, 1 Agustus 2019 yang mana kegiatan tersebut dilaksanakan dalam satu hari anggaran senilai Rp, 200.000.000,. tahun 2019. Jumlah anggaran yang fantastis menjadi dasar dugaan pelanggaran penganggaran Program lomba kulintang,

Dari komposisi anggaran yang disusun oleh dinas DPMD bidang SOSBUD (Bidang Ketahanan dan Sosial Budaya Masyarakat) terindikasi, jelas niat untuk melanggar hukum dengan mengalokasikan anggaran yang begitu fantastis.

Ini diduga merupakan praktik mark-up anggaran dan masuk kategori perbuatan tindak pidana korupsi. Karena itu, pejabat terkait harus diproses secara hukum, (28/9/2019).

Ketika dimintai tangapan terkait persoalan ini. Praktisi Hukum Awalindo Samsi Eka Putra.SH. memberi tangapan cukup kritis. “Menanggapi pemberitaan, sebelumnya, artinya memang perlombaan kulintang itu jangal mengapa dikatakan janggal sampai sejauh ini pembinaan pemerintah daerah sendiri terhadap seluruh budaya Lampung khususnya seni tabuh kulintang sudah sampai sejauh mana?

“Artinya sesuatu yang dilombakan itu meski harus dilihat faktor kesiapan, dari para peserta karena hanya ingin mendobrak atau hanya ingin melakukan terobosan yang mana sifatnya sebuah pencitraan bahwasannya Lampung Utara itu memperhatikan, budaya Lampung sehingga tiba-tiba membuat perlombaan seni budaya Lampung yaitu kulintang, jelas Samsi.

Sementara pembinaan terhadap seni budaya Lampung itu sendiri sampai sejauh mana yang selama ini kita lihat memang tidak ada. “Mengapa saya bisa mengatakan demikian, kebetulan saya adalah salah satu dari Ketua, sanggar seni budaya Lampung, yaitu Ketua Sanggar Pak likoer Dawo Bandar putih,”

Yang mana sanggar kami ini mempunyai, kegiatan -kegiatan diantaranya seni tari, seni gitar klasik, seni bela diri pencak Lampung dan juga seni kulintang.

Sampai sejauh ini semenjak kami mendirikan kan sanggar ini tahun 2006 sampai dengan sekarang 2019, itu tidak ada sama sekali pembinaan, sebenarnya justru kami sendiri sudah memberikan kontribusi besar untuk Lampung Utara dari sanggar seni klasik Lampung. yang klasik Lampung dari sanggar pak likur dawo, ujar Samsi.

Kami, sudah pernah mengisi secara full di radio swasta yang ada di Lampura ini, radio Wijaya, radio mandiri, jika dahulu pernah mendengar siaran-siaran kami yang mana nama program “miah damar” karna itu adalah sanggar kami, tambah Samsi, dan tak luput setiap malam Kamis kami mengisi acara gawang kenawat, tidak hanya sebatas itu. kami pula dari sanggar apak likur dawo, pernah mengisi acara di TVRI, di radio RRI, artinya ini sebuah potensi yang pernah kami tampilkan tinggal pembinaan.

Akan tetapi sejauh ini tidak ada pembinaan dari pemerintah daerah terutama, semenjak tahun 2010 sampai saat ini, jika dari 2006 sampai 2010 masih ada kontribusi dari pemerintah daerah, pembinaan dan ada lomba sebelum mengadakan lomba dipersiapkan dahulu, Kesiapan-kesiapan nya apa,!

Tetapi dari tahun 2010 sampai saat ini itu tidak ada, saya merasa aneh mengapa tiba-tiba kok ada lomba kulintang, sementara selama ini pembinaan itu sendiri tidak ada, ini jelas. apalagi sampai anggaran biaya nya yang cukup besar sampai ratusan juta dan mencapai 200-an juta, sedangkan pembinaan itu sendiri tidak maksimal. seharusnya kalau memang ini untuk menggali potensi atau mau melestarikan kita harus tahu dulu visi dan misi tujuan apa diadakannya lomba, papar Samsi.

Sudah pasti kan tujuannya untuk mengangkat seni dan budaya, melestarikan seni budaya. Jika tiba-tiba diperlombakan nah ini kan aneh persiapannya seperti apa? sementara, technical meeting nya sehari ini technical meeting nya, besok langsung lomba, lalu jenis-jenis tabuhan nya seperti apa.

Jurinya itu berkompeten atau tidak, apa latar belakang dari juri itu sendiri, itu kan harus diketahui. “artinya para peserta pun harus tahu dalam kapasitas juri itu, latar belakangnya, bukan hanya main tunjuk juri ini.” Nantinya dia tidak tahu tabuhan hujan turun, apa tabuhan gupak, tabuhan kreasi, itu kan banyak macamnya.” dan tabuhan – tabuhan pula beda dari Lampung Abung beda, dari Sungkai beda, Peminggir beda, seperti itu jenis-jenis tabuhan pula harus tahu, ini butuh waktu seharusnya sebelum adanya lomba itu ada dulu sosialisasi, tegas Samsi.

“Tabuhan – tabuhan yang akan ditampilkan seperti ini, ada pembinaan untuk calon calon peserta. artinya kegiatan lomba tersebut sangat mubazir, hanya event ini yang mana seharusnya bisa bagus mengangkat seni dan budaya serta melestarikan seni dan budaya akan tetapi ini hanyut begitu saja. hanya sekedar pencitraan sesaat, sementara mutunya tidak ada lalu kesan apa yang mau didapat, oleh masyarakat apa manfaat yang bisa diambil oleh masyarakat.

Artinya sangat disayangkan event -event seperti ini, dilaksanakan dengan cara tergopoh-gopoh atau lebih miring kepada bagaimana caranya bisa menghabiskan anggaran, jadi menurut kami sebagai pemerhati seni dan budaya sebagai salah satu ketua seni budaya Lampung, “sanggar patlikur dawo” sangat menyesalkan adanya lomba yang terkesan asal-asalan sehingga tujuan apa yang kita harap itu jauh dari apa yang kita dapat, tutup Samsi Eka Putra.SH. (Rama)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed