Published On: Mon, Jul 1st, 2019

Mengenal Desa Lontar Tempat Kelahiran Kapolda Sumsel Irjen Firli

Share This
Tags

KPK | Sumsel – Kapolda Sumsel Irjen Firli merupakan pria kelahiran Desa Lontar, Kecamatan Muarajaya Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU). Desa Lontar merupakan desa di kawasan seberanag Sungai Ogan.

Desa ini tidak memiliki akses keluar melalui jalur darat. Untuk menuju jalan raya (jalan aspal ) harus berjalan kaki melewati pematang sawah dan tiga kali melewati jembatan (jembatan kayu 2 buah dan 1 buah jembatan gantung darurat). Di sinilah 55 tahun silam , Firli dilahirkan.

Siapa sangka bungsu dari enam bersaudara anak pasangan Bahuri (ayah) dan Tamah (ibu) kini menjadi jenderal bintang dua yang diberi amanah memegang tampuk pimpinan Polda Sumsel.

Napak tilas perjuangan semasa kecil dikisahkan kembali oleh Kapolda Sumsel Irjen Pol Drs Firli MSi saat pulang kampung bersama isterinya Ny Dra Ardina Safitri. Turut juga puteri dan putra Kapolda Rizqa Agustin Ananda Putri dan Rizqi Arfiananda Dhira Putra.

Kapolda Sumsel pulang kampung untuk nyekar ke makam orang tuanya Sabtu (29/6/2019). Untuk mengenang kembali masa-masa kecilnya, lulusan AKPOL 1990 ini memilih berjalan kaki dari jalan raya Desa Tangsilontar Kecamatan Pengandonan menuju rumahnya di Desa Lontar Kecamatan Muarajaya.

Sepanjang perjalanan, ayah dua anak ini dengan semangat menceritakan perjuangannya waktu di bangku Sekolah Dasar (SD) yang sudah menjadi yatim sejak ayah meninggal tahun 1974. Ibunda Firli membesarkan dan mendidik Firli bersama lima saudaranya bernama Rusibah, Sismiana, Iskandar, Makmulhad, Busri dengan segala keterbatasan.

Kehidupan Firli bersaudara penuh dengan tantangan dan ujian. Kerasnya kehidupan membuat Firli terlatih dan tanggap serta tidak kenal kata menyerah.

Waktu SD Firli sudah bisa membeli sepeda hasil keringat sendiri dengan menyadap karet setelah pulang sekolah. Uang hasil penjualan karet ditabung selama 3 bulan untuk membeli sepeda.

Setelah lulus SD di Desa Lontar, tantangan untuk masuk SMP juga lumayan berat karena SMP hanya ada di Kecamatan Pengandonan kata Firli. Tidak ada pilihan lain, Firli harus berjalan kaki menempuh sejauh 16 KM (PP) untuk menuntut ilmu.

“Saat bejalan kaki saya selalu menundukan kepala menatap tanah yang saya lewati, tahu-tahu sudah nyampai rumah,” kata Irjen Pol Firli seraya menambahkan kalau dia mengangkat kepala maka akan melihat berapa jauh lagi jarak yang harus ditempuh.

Sepulang sekolah shalat dan makan, setelah itu Firli harus pergi lagi ke ladang berjalan kaki sejauh 3 KM dengan medan menadaki dan menurun untuk membantu ibunya. Setelah lulus SMP Firli hijrah ke Palembang melanjutkan pendidikan SMA.

Dengan modal semangat Firli memulai perjuangan hidup berat di Kota Palembang. Untuk menyambung hidup dan pendidikannya Firli harus kerja serabutan yang penting halal.

Sepulang sekolah Firli dagang sepidol beli Rp25 selusin di Pasar Cinde dan dijual kembali seharga Rp50 selusin di Taman Ria Sriwijaya Palembang. Dalam semalam Firli bisa menjual 6 lusin sepidol dan bisal membawa uang Rp150 untung dari dagang spidol. Selain jualan sepidol, Firli juga ikut berjualan kue hingga upahan mencuci mobil.

Semua itu dilakoni untuk bertahan hidup dan meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Pesan moral yang ingin disampaikan Kapolda Sumsel Irjen Irjen Pol Drs Firli MSi kepada generasi mendatang jangan pernah menganggap tantantangan itu sebagai penghalang. Jangan minder atau bersedih terlahir dikeluarga yang kurang berkecukupun.

“Masa depan seseorang tidak ditentukan saat dia lahir tapi semangat berjuang semangat bekerja keras dan tentunya izin Allah SWT.“ imbuh Irjen Pol Drs Firli MSi.

Menurut Firli, berkat hidupnya sudah ditempa sejak kecil membuat jiwanya kuat kehiudpannya bisa sesukses sekarang.

About the Author

Harian Nasional Koran Pemberitaan Korupsi