Published On: Sun, Mar 24th, 2019

Ribuan Ikan Mati Diduga Akibat Penahan Zat Kimia Jebol

Share This
Tags

KPK | Pesawaran – Ribuan ikan besar kecil dialirkan sungai berletak di dibawah lereng perusahaan PT Lampung Sejahtera Bersama (LSB ) dan Lampung Kencana Cikantor (LKC) mati. Akibat jebol terpal untuk perendaman pengelolaan batu emas yang mengunakan bahan zat kimia sia nida dan soda api.

Hal ini dikatakan Kepala Desa Harapan Jaya Kecamatan Kedondong Pesawaran, Anawi, saat gelar musahwarah terhadap masyarakat dikediamannya Jum’at (22/3/19) malam.

” Waktu tahun 2010 pernah 40 orang dan tahun 2011 pernah 215 orang keracunan akibat makan ikan yang mati dialirkan sungai ini. Masyarakat tidak mengetahui ikan mati ini karena keracunan akibat zat kimia yang digunakan oleh dua perusahaan PT itu,” ungkapnya

Anawi juga menjelaskan, pasca keracunan berjamaan pada tahun 2010 dan 2011 lalu masyarakat masih masuk Desa Sinar Harapan. Namun ditahun 2012 ada pemekaran menjadi Desa Harapan Jaya.

“Tahun 2019 ini, ikan besar kecil pada mati di sungai yang melewati Desa Harapan Jaya dan Desa Way Kepayang Kecamatan Kedondong maka masyarakat akan menuntut terhadap dua PT tersebut, ” jelasnya

Salah satu korban keracunan pada tahun 2011 yang mengakibatkan perawatan selama 1 bulan 14 hari dirumah sakit, Ahmad Asmani (45) mengaku bahwa keracunan ini usai mengkonsumsi ikan dialarin sungai yang mengambang mati.

“Awalnya saya ga tau mas, bahwa ikan itu mati karena keracunan zat kimia yang digunakan oleh dua perusahaan diatas desa saya, jadi setelah usai makan ikan, saya keracunan dan dilarikan kerumah sakit selama satu bulan empat belas hari,” keluhnya

Bukan itu saja, Ahmad Asmani, mengatakan, bahwa penyakit yang dialami sejak itu sampai sekarang menimbulkan efek besar bagi dirinya.

” Saya ini mas diponis sama (Dokter red) bahwa, efek zat kimia yang masuk ke dalam tubuh saya tidak bisa disembuhkan, bahkan saya diponis sudah tidak bisa punya keturunan, dan jalan sepanjang 1 kilo nafas saya engos engosan yang hebat,” sesalnya

Usai musawarahkan untuk 9 permintaan yang akan diberi oleh dua PT tersebut terhadap masyarakat. Ahmad Asmani, menilai bahwa permintaan itu tidak ada nilai besar bagi dirinya.

“Sekarang, masyarakat ini berpikir 10 tahun kedepan, untuk nasib anak dan cucu kita semua maka permintaan ini sangat tidak sesuai dibanding penderitaan yang dialami dan masyarakat luas” Pungkasnya (Don)

About the Author

Harian Nasional Koran Pemberitaan Korupsi