Published On: Sat, Jan 5th, 2019

GERCIN NKRI Minta Kapolda Papua Usut Berita Hoax Bom Fosfor di Nduga

Share This
Tags

KPK Jayapura – Ketua Dewan Pimpinan Nasional – Gerakan Cinta Negara Kesatuan Repoblik Indonesia { DPN GERCIN – NKRI } meminta dengan tegas supaya pembuat dan penyebar berita hoax tentang isu Bom Fosfor di kabupaten Nduga diusut tuntas.

Dalam keterangan pers tertulis ( pdf.doc, red ) yang dikirim Hendrik Yance Udam via Whatsapp ke wartawan KPK desember kemarin ( 28/12/2018 ), dia dalam isi keterangan pers ini sangat meminta dengan tegas kepada Kapolda Papua untuk segera mengusut aktor intelektual dibalik kemunculan berita Hoax tersebut.

Lebih lengkap, berikut isi keterangan Persnya :

” Kami meminta dengan tegas kepada Kapolda Papua Irjen Pol Martuani
Sormin untuk segera mengusut aktor – aktor intelektual yang menyebarkan berita HOAX tentang TNI dan POLRI mengunakan BOM Fosfor dalam mengejar kelompok kriminal saparatis bersenjata ( KKSB ) di Nduga Provinsi Papua dan turut membuat situasi politik lokal dan nasional memanas tentang isu isu Papua, sebagaimana tudingan salah satu surat kabar mingguan Australia The Saturday Paper.

Banyak penguna media sosial juga kami lihat turut menyebarkan berita HOAX menyangkut pemboman di Nduga Provinsi Papua, bahkan dengan terang – terangan mereka menyudutkan TNI dan POLRI sebagai pembunuh masyarakat di kabupaten Nduga, sehingga postingan – postingan mereka tersebut turut memperkeruh suasana dengan menggoreng isu Nduga menjadi isu internasional, dengan menyudutkan pemerintah Indonesia di mata dunia internasioanal.

Padahal, kehadiran TNI dan POLRI di Nduga untuk menjaga keamanan dan mengejar KKSB di wilayah tersebut karena Papua adalah bagaian integral dari NKRI, bahkan ada beberapa pejabat – pejabat Papua juga turut menyebarkan berita Hoax tentang isu di Nduga sehingga membuat panik masyarakat.

Para penyebar berita HOAX tersebut harus diseret ke Pengadilan, sehingga ada efek jeranya dan mengingatkan kepada para penyebar HOAX lainya, untuk tidak menyebarkan berita Hoax. Sebab pasti akan berhadapan dengan Hukum.

Masyarakat Papua yang merupakan korban HOAX oleh kelompok – kelompok yang ingin mengacaukan NKRI harus sadar, mereka itu dengan sengaja memanfaatkan isu Nduga untuk tetap terus menyuburkan semagat perpecahan sesama anak bangsa dan semangat disintegrasi bangsa di Papua.

Kami juga meminta kepada Presiden Republik Indonesia melalui Kementerian luar negeri untuk kiranya dapat mengirimkan surat protes diplomatik kepada pemeritahan Australia, sehinga dapat menegur keras surat kabar mingguan australia “The Saturday Paper” yang juga diduga turut menyebarkan berita HOAX penggunaan BOM Fasfor oleh TNI dan POLRI, dalam mengejar KKSB di kabupaten Nduga Provinsi Papua.

Surat kabar Mingguan australia The Saturday Paper harus mengklarifikasi hal ini dan meminta maaf kepada masyarakat internasional, kerena diduga telah menyebarkan berita HOAX dan menyudutkan Indonesia di mata dunia internasional.

Kenapa?. Karena pemberitaan tersebut dapat menganggu stabilitas keamanan nasional indonesia, dan juga akan turut menyuburkan semagat perpecahan di Papua dan semangat disitegrasi bangsa.

Dan kepada masyarakat Papua terlebih khusus penguna media sosial, untuk harus berhati – hati dalam penggunaan medsos untuk menyebarluaskan berita HOAX, sebab akan dikenakan Undang Undang ITE.

Yaitu Undang – undang Informasi dan Transaksi Elektronik atau Undang Undang nomor 11 tahun 2008, atau UU ITE adalah UU yang mengatur tentang informasi serta transaksi elektronik, atau teknologi informasi secara umum.

Undang – Undang ini memiliki yurisdiksi yang berlaku untuk setiap orang yang melakukan perbuatan hukum sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini, baik yang berada di wilayah Indonesia maupun di luar wilayah hukum Indonesia, yang memiliki akibat hukum di wilayah hukum Indonesia dan/atau di luar wilayah hukum Indonesia, dan jika merugikan kepentingan Indonesia.” Tulis Hendrik Yance Udam kepada media KPK. { Pewarta : J.R.W/Ano Mahyudi,SH }

About the Author

Harian Nasional Koran Pemberitaan Korupsi