Published On: Thu, Dec 6th, 2018

LBH Antara 56: Jangan Ada Sejengkal Tanah Indonesia di Bawah Kendali Separatisme

Share This
Tags

KoranPemberitaanKorupsi.com | Lembaga Bantuan Hukum Anarki Nusantara 56 (LBH Antara 56) mengutuk pembantaian 31 pekerja di Papua. Ketua Dewan Pembina LBH Antara 56 Rosidi Roslan mengatakan warga sipil saat ini menjadi target paling rentan dalam aksi kekerasan di tanah Papua.

“Saya mewakili teman-teman di LBH Antara 56 menyatakan belasungkawa kepada semua keluarga pekerja yang dibunuh secara keji,” ujar Rosidi.

Lebih lanjut Rosidi menambahkan, saya meminta penegakan hukum dan kalau perlu terjunkan TNI jika dibutuhkan dan mendesak, jangan ada sejengkal pun tanah Indonesia yang di bawah kendali Gerakan Separatisme dan melakukan kekejian terhadap rakyat Indonesia.

“Tidak ada alasan apapun yang membenarkan kekerasan dan pembunuhan terhadap warga sipil dalam konflik di Papua,” tutur Rosidi saat ditemui di sela-sela kesibukannya di bilangan Cikini, Jakarta, Rabu, (5/12/18).

Rosidi berpendapat pendekatan pemerintah dengan cara pembangunan infrastruktur tidak serta merta memulihkan situasi keamanan di sana. Menurutnya, persoalannya tidak terbatas pada ekonomi dan pembangunan.

Atas kejadian ini, LBH Antara 56 pun meminta pemerintah berupaya sekuatnya untuk menghentikan serangan terhadap warga sipil di Papua. Pemerintah juga diminta memastikan penegakan hukum dilakukan secara hati-hati dan proposional.

“Dengan memperhatikan dan mengutamakan perlindungan masyarakat sipil dan tidak menyasar apalagi menggunakan kekerasan terhadap warga sipil Papua yang kerap distigma sebagai pendukung kelompok separatis,” jelas Konsultan dan Auditor Hukum ini.

Selain itu, LBH Antara 56 meminta pemerintah melakukan dialog secara serius mengenai berbagai persoalan di Papua.

Seperti diketahui dalam pemberitaan berbagai media, pembantaian diduga dilakukan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di wilayah Nduga, Papua, terhadap 31 pekerja pembangunan jembatan. Sebanyak 31 orang tersebut merupakan pekerja BUMN PT Istaka Karya.

Mereka bekerja untuk membuka isolasi di wilayah pegunungan tengah. Lokasinya jauh dari ibukota Nduga dan Kabupaten Jayawijaya yang terdekat dari wilayah pembangunan jembatan. Informasi yang diterima dari berbagai sumber, para pekerja pembangunan jembatan itu diduga dibantai lantaran mengambil foto pada saat perayaan HUT Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka (TPN/OPM) oleh KKB tak jauh dari lokasi kejadian.

Saat salah satu pekerja mengambil foto, hal itu kemudian diketahui oleh kelompok KKB. Hal itu membuat mereka marah dan mencari orang yang mengambil foto hingga berimbas kepada pekerja lainnya yang ada di kamp pembangunan jembatan.

About the Author

Harian Nasional Koran Pemberitaan Korupsi