Published On: Thu, Nov 15th, 2018

Mantan Kades Mada Jaya: TPA Gunakan APBN Tahun 2014

Share This
Tags

KPK | Pesawaran – Mantan Kepala Desa Mada Jaya Rusdali, pastikan soal status tanah yang dibangunkan Tempat Pengajian Anak (TPA) yang menggunakan APBN pada tahun 2014 adalah hibah.

Hal ini diungkapkannya saat dihubungi melalui sambungan telepon selulernya. Kamis (15/11).

“Bangunan TPA tersebut dibangun melalui program PNPM pada tahun 2014, dan sebelum dibangun persyaratan sudah jelas harus ada surat hibah tanah itu, baru mereka mau membangun,” jelasnya.

Dirinya juga mengatakan, dirinya selaku kepala desa pada masa pembangunan TPA tersebut hanya sebatas mengetahui saja.

“Segala yang mengatur dan mengerjakan bangunan tersebut kita serahkan kepada Ketua Tim Pengawas Kegiatan (TPK), pada saat itu pak Sapiudin yang menjabat,” paparnya.

Saat disinggung, bukti surat hibah yang sudah dilakukan antara pemilik tanah dan desa, Rusdali berkilah dengan mengatakan kalau surat hibah tersebut dipegang oleh ketua TPK.

“Pada saat itu ada surat hibahnya, coba Abang tanyakan kepada ketua TPK nya bang,” singkatnya.

“Kalau memang masalah ini mau dipertanyakan oleh kepala desa Pak Sutrisna, silahkan saja, kalau perlu kita duduk bersama, antara saya, kepala desa yang saat ini menjabat, pemilik tanah, dan ketua TPK nya juga biar permasalahan ini jelas,” timpalnya.

Diberitakan sebelumnya, Kepala Desa Mada Jaya Kecamatan Way Khilau Sutrisna, pertanyakan status tanah yang dibangun Tempat Pengajian Anak (TPA) pada tahun 2014 dengan menggunakan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).

Hal ini diungkapkannya saat dihubungi melalui sambungan telepon selulernya. Rabu (14/11)

“Saya ini bingung, ketika Pemda Pesawaran meminta data data apa saja aset desa, tanah yang dibangun TPA ini kan salah satunya aset desa juga, tetapi surat hibah nya tidak ada sampai sekarang,” jelasnya.

Dirinya juga mengatakan, pembangunan TPA tersebut dilakukan saat dikepemimpinan lurah lama Rusdali, jadi dirinya tidak mengetahui proses pemberian tanah tersebut.

“Sudah saya tanyakan kepada pak Rusdali tentang status tanah tersebut, kalau memang hibah mana bukti surat surat hibahnya tersebut, dirinya juga tidak mengetahui,” paparnya.

“Dan sekdes yang saat itu menjabat di kepemimpinan Rusdali juga tidak mengetahui juga, jadi saya bingung bagaimana status tanah tersebut,” timpalnya.

Dirinya juga sangat menyayangkan, bangunan tersebut sampai saat ini tidak dipergunakan sama sekali oleh warga. “Waktu itu pernah dipergunakan untuk anak anak belajar mengaji, namun diusir oleh pemilik tanah, jadi sampai saat ini bangunan tersebut terkesan mubasir,” pungkasnya (Don)

About the Author

Harian Nasional Koran Pemberitaan Korupsi