Published On: Sat, Sep 29th, 2018

Tidak Benar Siswa di Asrama SMK Pertanian Mengeluh Soal Menu Makanan

Share This
Tags

KoranPemberitaanKorupsi.com | Sentani Jayapura – Informasi dan laporan beberapa nara sumber yang menyebutkan ada ketidakpuasan soal menu makanan ( lauk-pauk ), yang diberikan kepada siswa yang menghuni Asrama Puteri di lokasi Sekolah Menengah Kejuruan ( SMK ) Pertanian yang berada di kampung Harapan distrik Sentani Timur, ternyata sama sekali tidak berdasar dan tidak benar. Informasi itu terkesan hanya mengada-ada ketika wartawan media ini langsung turun sendiri ke lapangan untuk menelusuri hal tersebut.

Pasalnya, dari informasi serta laporan yang diterima kabardaerah.com tentang adanya keluhan siswa terkait asupan gizi atas pemberian jenis makanan atau menu yang diberikan hanya satu jenis, serta dicurigai ada indikasi KKN demi menguntungkan pihak penyedia, ternyata hanyalah informasi dan laporan miring belaka yang sama sekali tidak disertai bukti yang kongkrit.

Informasi dan laporan yang diterima awak media KPK (minggu, 06/09/2018) dari dua orang siswi tepatnya di depan rumah salah seorang guru senior di sekolah itu, turut menyungguhkan adanya keluhan sejumlah siswa yang tinggal di asrama puteri sekolah itu. Yaitu terkait menu makanan yang dikatakan hari-harinya cuma sayuran Sop/Sup yang dikonsumsi.

Menindaklanjuti informasi dan laporan itu, selang beberapa hari kemudian wartawan media koran pemberitaan korupsi datang dan menemui Pengguna Anggaran (PA) yang notabene Kepala Dinas Tanaman Pangan & Holtikurtura Provinsi Papua dalam rangka meminta konfirmasi.

Di depan meja kerja Samuel Siriwa selaku kepala dinas (24/09), di ruangan pimpinan OPD Dinas Tanaman Pangan & Holtikurtura yang berada di gedung B kantor otonom ini, Samuel justru meminta agar informasi tersebut harus ditelusuri secara baik, mengingat ada kecurigaan pihak-pihak tertentu (oknum) yang dirasa tidak senang dengan kepemimpinan dirinya bahkan kepala SMK itu sendiri.

“Itu informasi yang tidak benar sama sekali. Tapi saya minta hal ini media harus telusuri secara baik dulu dengan datang sendiri ke SMK untuk meminta konfirmasi pihak sekolah dan asrama agar beritanya benar-benar akurat dan berimbang. PPTK-nya ibu kepala sekolah sendiri, jadi bisa datang dan cek sendiri di sana.

Cuma yang saya mau kasih tahu, ada pihak-pihak tertentu yang kami rasa tidak senang dengan kepemimpinan ibu kepala sekolah termasuk saya. Saya minta jangan sembunyi di belakang layar di balik siswa tertentu. Kalau merasa diri benar, dia harus berani tunjukkan dirinya beserta bukti.

Kalian bisa datang dan lihat sendiri kemajuan di sekolah itu. Sebagai pemerintah, sampai saat ini kami tetap konsisten dan serius menaruh perhatian untuk peningkatan serta kemajuan pendidikan di SPMA atau SMK Pertanian ini, agar siswa-siswi itu memiliki daya saing dan daya jual yang tinggi setelah lulus dari sekolah itu. Salah satu pendukungnya juga yaitu pola makan. Selama ini jatah makanan bagi siswa di asrama itu berjalan lancar dan baik.

Khusus buat oknum atau pihak-pihak yang menyampaikan informasi miring ini, harus juga punya pikiran yang positif dalam ikut memberikan kontribusi bagi kemajuan SMK Pertanian. Dan mengenai menu makanan, saya mau kasih tahu bahwa pagunya itu sebenarnya masih tergolong kecil apabila dilihat dengan volume yang ada. Jatah makan siswa itu tiga kali sehari, dengan besaran biayanya 64.000 per orang untuk 130 siswa yang tinggal di asrama.” Ujar kadis.

Rabu, 26 september 2018 wartawan menyambangi SMK Pertanian di kampung Harapan distrik Sentani Timur kabupaten Jayapura. Dalam jumpa pers yang dilakukan di ruang kerja kepala sekolah siang itu, hadir pula kepala seksi urusan kesiswaan yang sekaligus dipercayakan mengurus dan mengawasi siswa yang bermukim di asrama bernama Mesak Worembai. Hadir pula salah seorang guru bernama Yohanes Rumba mendampingi pimpinan SMK.

Kepsek yang memiliki nama Joice Katherina Ongge dalam keterangannya yang cukup akurat menjelaskan, informasi bahkan laporan yang mengatakan ada komplain atau keluhan dari siswanya sendiri di asrama sama sekali tidak benar.

Dirinya (Joice) menuturkan, soal makanan bagi siswanya di asrama sangat menjadi prioritas utamanya. Joice yang merupakan puteri asli Papua asal suku Sentani dari kampung Harapan ini secara tegas menerangkan bahwa dirinya sangat peduli dan serius dengan gizi dari makanan para siswanya sendiri. Kepsek ini bahkan bisa marah jika ada keluhan siswanya soal menu makanan yang diberikan pihak koki dari penyedia.

“Yang berhubungan dengan menu makanan siswa saya biasa tegas dan bahkan saya bisa marah. Saya tegas akan hal itu. Begitu saya dapat laporan ini, saya langsung telepon ibu penyedianya dan saya suruh datang menghadap saya. Jadi kami tidak ada kerja sama untuk hal-hal yang mungkin disangkakan. Kami ingin dia kasih makan anak-anak yang baik.

Saya kasih contoh saja, pernah kami guru-guru dikasih kacang hijau untuk dimakan setelah siswa mereka sudah kebagian semua, saya larang tidak boleh. Saya tegaskan bahwa makanan itu untuk anak-anak semua. Walaupun makanan itu lebih, makanannya untuk siswa jadi biar mereka makan sampai kenyang-kenyang. Jadi sampai sekarang setiap hari jumat kegiatan olah raga kami sudah tidak lagi ditawarkan makanan dari penyedia.

Soal makanan siwa kami di asrama, kami selalu awasi tegas. Saya sudah ingatkan ini ke pak Mesak, juga pak Yohanes yang menangani urusan kurikulum atau belajar-mengajar di sini. Jadi waktu informasi tentang menu makanan dan nasi yang basi ini kami dengar, saya langsung tanyakan kepada semua siswi yang ada di asrama puteri. Saya bilang; siapa yang pernah makan makanan dan nasinya basi?. Para siswa yang kumpul waktu itu langsung dengan spontan menjawab; tidak ada ibu guru!.

Saya juga tanyakan sama mereka; apakah kalian keluhkan dengan menu makanan yang kalian makan setiap hari?, apa kata mereka; tidak ibu guru!. Spontan mereka jawab demikian. Hanya kedua siswi ini saja yang mungkin menginformasikan demikian ke media.

Tapi kami curiga makanan yang mereka dua bilang basi itu mungkin mereka bawa dan simpan di asrama beberapa jam lalu dimakan sehingga dikatakan basi.

Makan malam kan sering siswa puteri itu bawa juga dengan rantan plastik untuk dimakan di asrama. Wadah menampung makanan ini bahannya kan plastik, sehingga jika ditutup rapat dan tidak ada udara yang keluar, pasti akan cepat berbau. Iya kan?.

Semua siswa ini kalau makan itu sama-sama di ruang makan. Siswa putera duluan karena ruang tampungnya kecil, sejam kemudian baru siswa puteri itu lagi masuk makan.

Tapi mereka makan itu sama-sama. Bagaimana hanya kedua siswa ini saja yang punya nasi basi dan siswa yang lain tidak?. Kan aneh. Siswa yang lain kita tanya, mereka bilang sama sekali nasinya yang sering dimakan tidak pernah basi. Kok kenapa dua siswi ini bilang beberapa kali makanannya basi?. Kami rasa ini hal yang tidak benar.

Dan kalau dibilang sakit perut karena makan makanan basi, kenapa yang lain tidak alami hal itu setelah selesai makan makanannya?. Seharusnya kan saat mereka sakit perut, langsung melaporkan ke guru atau pengawas asrama agar diketahui. Pak Mesak inilah yang selalu standby antar siswa di asrama ke rumah sakit dan bahkan sampai hampir subuh baru pulang.

Kalau sakit perut setelah makan nasi basi, pasti setelah diantar ke RSUD akan ditanyakan alasan perut mereka sakit. Pak guru Mesak ini yang pasti akan tanya siswa yang sakit itu duluan baru nanti ditanya lagi sama dokter di rumah sakit. Yang jelas kalau karena selepas makan makanan dan sakit perut, pasti mereka akan memberitahukan hal ini pula ke kita guru sehingga kami pun tahu. Tapi selama ini kan sama sekali tidak pernah ada yang merasa sakit perut karena akibat makanan nasi itu sendiri. ” Ungkap kepala sekolah.

Kepsek juga menginformasikan kebiasaan siswanya di asrama yang kerap gemar mengkonsumsi buah mangga muda yang dimakan dengan rica. Diduga pula, kebiasaan menyantap buah mangga muda dengan rica inilah dapat menimbulkan gangguan pada lambung siswi itu sendiri.

“Bisa dilihat sendiri sejumlah pohon mangga di dalam sekolah ini. Kadang siswa kami ini baik putera maupun puteri, memetik buah mangga dan membiasakan diri mereka makan dengan rica. Kami sudah menegur mereka karena kebiasaan ini jelas akan membahayakan siswa sendiri. Tapi untuk soal menu dan jatah makan di asrama, tiga kali mereka makan dan lancar selalu.

Bagaimana mereka telat makan, sedangkan ibu koki dan orang-orang yang membantunya tinggal di samping dapur asrama?. Menunya pun bukan hanya satu jenis saja sayur sup seperti yang dilaporkan itu. Menu makanan mereka jelas berganti-ganti karena memang harus sesuai kontrak yang ada. Lalu sekali lagi, kami di sini tetap selalu mengawasi mereka.

Jadi informasi seperti itu, saya rasa ada oknum-oknum tertentu di belakang layar yang hanya memakai kepolosan dari satu dua orang dari siswa kita ini untuk sengaja mau mencemarkan nama baik kita di sekolah ini. Begitu pun menyangkut fasilitas Kasur yang anak-anak siswa ini pakai, semuanya masih lengkap dan tidak ada masalah.

Memang ada pengadaan waktu itu, tapi belum semua. Ya kami berharap ini bisa menjadi perhatian pemerintah sehingga ke depan bisa ada pengadaan lagi agar kasur yang sudah lama bisa kami ganti dengan yang baru,” bilang Joice sembari menekankan kalau pihaknya sudah dan akan terus berbuat yang terbaik bagi sekolahnya.

Lagi ditambahkan kepsek yang ramah dan murah senyum ini, aset Lembaga Pendidikan itu selain milik Pemda Provinsi Papua, namun pernah SMK juga dibantu Pemda kabupaten Jayapura.

Guru yang juga kepala seksi kesiswaan bernama Mesak Worembai yang duduk sebangku dengan Yohanes Rumba menambahkan, sejak 2014 sampai 2018, SPMA atau SMK Pertanian Sentani sudah terus mengalami peningkatan serta kemajuan yang signifikan tidak seperti di tahun-tahun sebelumnya. Begitu pun terkait pola makan siswa di asrama. Apalagi di era kepemimpinan Samuel Siriwa sendiri, perubahan demi perubahan terus terjadi.

“Sejak 2014 sampai dengan sekarang tahun 2018, sekolah ini sudah banyak mengalami perubahan yang signifikan. Tidak seperti di tahun-tahun sebelumnya. Baik dari segi dukungan fasilitasnya sendiri dan tenaga SDM yang mengajar, sudah ada perubahan. Kami guru-guru yang mengajar di sini ada sebagian juga yang merupakan alumni dari SMK ini.

Dan soal pola makan serta menu makanan yang ada di asrama, selama ini tidak pernah ada kendala dan keluhan siswa itu sendiri. Waktu saya tanyakan kedua siswi itu, keduanya kelihatan gugup. Masa semua siswa tidak komplain dan hanya kalian berdua saja?. Ya seperti kecurigaan bapak kadis kita, saya pun bisa menduga ada pihak tertentu yang sengaja menghebuskan informasi tak benar ini dengan maksud untuk menjelekkan kami di SMK” beber Mesak.

Di hari yang sama usai jumpa pers yang dilakukan dengan pimpinan SMK dan stafnya, atas restu kepala sekolah wartawan akhirnya dapat bertatap muka dengan penyedia/kontraktor yang bersangkutan. Di depan direktur CV. Anugerah Papua yang adalah seorang ibu asli Papua dari suku Biak ini, sejumlah keterangan pun dikantongi.

Ujar Benselina Up yang ikut mendampingi isterinya menjelaskan,

setelah informasi dan laporan adanya keluhan siswa atas menu makanan yang disajikan hari-harinya di asrama, penyedia ini sangat terkejut dan langsung datang menemui panggilan PPTK yang notabene kepala sekolah itu sendiri. Setelah dikroscek informasi dan laporan ini ke siswa yang ada di asrama, ternyata tidak benar sama sekali kalau ada komplain atas menu dan makanan basi seperti yang dituding tersebut.

Rekanan dinas Tanaman Pangan & Holtikurtura yang sudah lama merintis usahanya di bidang cathering ini juga menguraikan, dirinya sangat berpengalaman soal pemberian jenis menu makanan yang menjadi asupan bagi siswa itu sendiri. Selain itu, menu yang sudah ditetapkan dalam isi kontrak tak mungkin bisa dilanggar dan diatur-atur semau kontraktor/penyedia.

“Waktu kami dikasih tahu ibu kepala sekolah tentang adanya keluhan dari siswi SMK, ketika dipanggil kami langsung datang ke sekolah untuk mengklarifikasikan hal itu. Setelah siswa kami kumpulkan dan tanyai, sama sekali tidak ada yang mengeluh soal menu dan nasi yang basi.

Di depan ibu kepala sekolah kami jelaskan bahwa selama ini menunya sudah diberikan sesuai kontrak yang ada. Tidak ada masalah dan kendala soal menu, termasuk nasi basi itu. Karena hal ini, sekarang untuk jam makan malam kami sudah atur dan tegaskan untuk semua siswa harus sama-sama makan di ruang makan yang sudah disiapkan” tutur penyedia.

Ibu Kontraktor asli Papua ini menambahkan, jika bicara untung rugi, justru pihaknya memiliki keuntungan yang tidak seberapa oleh karena volume makanan yang kadang melebihi, dikarenakan kerap ada teman sesama penghuni asrama yang datang untuk belajar bersama di asrama dan diajak ikut menikmati makanan siswa asrama.

Selain soal makanan yang selalu diperhatikan, penerapan disiplin kepada siswa di asrama juga ikut diberikan penyedia ini sendiri tambah Benselina.

“Saya bangga dipercayakan mengelola makan bagi siswa di asrama SMK Pertanian. Meskipun tidak seberapa keuntungannya kami hitung, namun dengan sopan santun siswa itu ketika memanggil kami dengan sebutan mama, bapa, hati kami sangat tersentuh sekali. Siswa ini kami sudah menganggap sebagai anak kami sendiri.

Kasihan, mereka ada yang datang jauh dari daerah dan sangat menaruh harapan kepada kami untuk memperhatikan dan mengurus makan hari-hari mereka, jelas hati nurani kami sangat bertolak belakang sekali kalau mau mengorbankan mereka hanya demi keuntungan yang lebih besar untuk kami semata. Itu dosa!.

Bicara volume, jelas justru melebihi. Kenapa?, karena kadang mereka bawa dengan teman-teman untuk belajar bersama di asrama dan saat jam makan kami tak bisa membiarkan mereka kelaparan. Apalagi kalau malam hari. Dan siswa asrama juga harus makan sampai benar-benar kenyang sehingga porsi makannya juga harus kami perhatikan, sedangkan jatah harga per siswa itu sendiri Rp.64.000 dan 3 kali makan sesuai kontrak.

Walaupun demikian, kami tak bisa mengelak. Ini sudah tanggung jawab kami. Lalu jujur saya sampaikan, memang ada sayur sup yang selalu kami berikan, tapi harus diketahui supaya jangan pikir kami hanya sekali dalam seminggu memberikan daging ayam siswa itu makan.

Dalam sayur sup itu sudah terdapat beberapa jenis sayuran dan dicampur daging ayam. Selain sup, juga ada lauk lain yang kami berikan. Sayur kangkung, sawi dan sayur lainnya. Setiap kali sayur sup mereka makan, dalamnya sudah ada daging ayam juga. Dan siswa sangat menikmati menu yang selalu ganti-ganti tersebut kami sajikan.

Terkait makanan yang katanya basi, untuk sayur sup misalnya, biasa petugas koki kami bikin banyak untuk sekaligus makan malam, tetapi dipisahkan bahan makanannya. Yang untuk makan malam, akan dimasak lagi sayurnya untuk dimakan pada saat jam makan malam. Sama halnya sayur nangka dan beberapa sayur lainnya yang biasa disiapkan banyak.

Jadi kalau dibilang petugas dapur yang kami pekerjakan dia masak dari pagi hari lalu dihidangkan lagi untuk dimakan malam harinya, itu jelas tidak betul.

Siswa ini juga kami latih sebelum makan, di meja makan mereka harus dahulu berdoa mengucap syukur kepada Tuhan atas berkat yang mereka nikmati. Ini sudah menjadi tradisi yang kami bangun dan ikut terapkan buat anak-anak kami di asrama.

Kemudian satu yang mau kami sampaikan, coba ukur dan bandingkan berat badan siswa di asrama sekarang dengan berat badan mereka ketika pertama kali masuk di asrama. Berat badan mereka saja sudah jauh berbeda dengan yang sekarang selama mereka tinggal di asrama. Mereka dari daerah datang badannya kurus, kini sudah berubah. Lalu apakah kami tidak memperhatikan menu makan mereka?.” Sesal Benselina merasa heran dengan informasi dan laporan miring yang ada.

Perihal perubahan berat badan siswa penghuni asrama sewaktu cru KD mewawancarai kepala sekolah dan guru seksi kesiswaan, Joice dan Mesak turut menerangkan hal itu, bahwasanya dari menu yang baik yang diberikan itulah anak-anak siswa asrama selama beberapa bulan berjalan sudah mengalami perubahan fisik itu sendiri.

Penyedia didampingi suaminya juga mempertegas dan meyakini ada oknum-oknum tertentu yang diduga karena muatan kepentingan bisnis bahkan mungkin kepentingan terhadap posisi jabatan birokrasi sehingga sengaja menghembuskan informasi yang sama sekali tidak berdasar. Benselina dan suaminya pun membeberkan kalau proyek yang ditanganinya itu sudah pernah mendapat pemeriksaan dari inspektorat bahkan BPK tetapi sama sekali tidak terdapat kesalahan dalam pelaksanaan kegiatannya dalam menyediakan makanan bagi siswa SMK.

“Kami merasa serta menduga informasi dan laporan ini hanya dihebuskan oleh oknum-oknum tertentu saja, yang mungkin karena muatan kepentingan bisnis bahkan mungkin menginginkan posisi di birokrasi. Jujur kami kasih tahu, untuk mendapat kegiatan ini saja kami fight murni di LPSE dan akhirnya bisa memperoleh kegiatan ini lagi. Jangan menyangka kami ada suap siapa-siapa di sini. Paket ini murni kami berjuang di LPSE.

Kegiatan kami ini juga sudah pernah mendapat audit dari pemeriksa di inspektorat dan BPK, namun tidak pernah ada kesalahan. Kalau saja ada kesalahan, pasti akan ada rekomendasi atau laporan hasil pemeriksaan ke dinas dan pasti kami akan ditegur dan bertanggung jawab bahkan mendapat sanksi hukum.

Kami kerja pekerjaan ini tentu sangat hati-hati sekali, demi menjaga nama baik perusahaan, nama baik pribadi dan juga dinas.

Harapan kami, siapa pun anda yang mungkin tidak senang dengan kami, mari sama-sama kita bangun anak-anak kita di SMK Pertanian ini agar ke depan mereka bisa tampil di bidangnya menjadi aset yang berharga bagi daerahnya sendiri dan bagi tanah Papua tentunya. Kami tidak marah terhadap siapa pun yang menghembuskan informasi miring ini, kami tetap saja optimis dan akan selalu melaksanakan pekerjaan ini dengan keyakinan takut akan Tuhan untuk mengelola makan anak-anak kami di asrama SMK Pertanian.” Tutup Benselina disungguhkan suaminya sendiri.

{Pewarta: Jeffry, R.W}

About the Author

Harian Nasional Koran Pemberitaan Korupsi