Published On: Sat, Sep 29th, 2018

Abaikan Pelanggan Lama, PT Telkom Jayapura Terkesan Pilih Kasih

Share This
Tags

KPK | Sentani Jayapura – Indonesia Digital Home atau yang lebih dikenal dengan nama Indihome, adalah merupakan salah satu paket PT. Telekomunikasi Indonesia. Paket Indihome ini, hingga 2018 ternyata sudah banyak diminati warga masyarakat Papua, khususnya yang berada di kabupaten Jayapura.

Selain menyediakan fasilitas internet (Wife), chanel televisi dan telepon rumah pun sudah menjadi satu paket bagi pelanggan yang ingin memasang serta menikmati produk layanan Telkom ini.
Tapi bagaimana jika dalam hal “good service” kepada pelanggannya sendiri masih menyisahkan kesan yang kurang baik?.

Sebut saja salah satu contoh kasus yang dialami salah seorang pelanggan Indihome PT. Telkom Indonesia kantor Plasa Jayapura ataupun pada kantor Cabang Sentani kabupaten Jayapura, yang sampai saat ini masih terus mengeluh dan bertanya-tanya tentang persoalannya yang dirasakan.

PROSES MIGRASI SPEEDY KE INDIHOME, DIRASA TELKOM TEBANG PILIH

Beginilah penuturan pelanggan Indihome yang notabene Pimpinan Perwakilan/Kordinator Media Cetak dan Online Koran Pemberitaan Korupsi Provinsi Papua (media ini sendiri) kepada media KPK.

“Saya ini pelanggan lama untuk paket Telkom ini. Sejak promo Indihome atau promo pemasangan jaringan kabel tembaga PT. Telkom Jayapura kepada warga masyarakat yang berdomisili di komplek BTN. PEMDA DOYO BARU distrik WAIBU kabupaten Jayapura beberapa tahun lalu, kami di jalur 6 Blok G ini termasuk pelanggan yang pasang di awal-awal.

Tetangga-tetangga kami yang juga pasang Wife Telkom mereka ini, itu baru saja mereka pasang. Kami di sini termasuk yang duluan. Tapi pertanyaan utamanya; kenapa waktu petugas migrasi lapangan datang di BTN PEMDA DOYO untuk melakukan migrasi atau pergantian kabel jaringan tembaga ke optik mereka lewatkan rumah kami???.

Ini ada apa sebenarnya?. Apakah kami ini bukan pelanggan telkom?. Sebenarnya manajemennya juga harus tahu kan? bahwa di jalur ini ada pelanggan lama, yakni kami.

Jadi mereka di kantor juga harus bisa mengingatkan petugas migrasinya di lapangan agar tidak melupakan rumah kami ini.

Mestinya rumah kami juga terkena migrasi saat mereka lakukan migrasi di BTN ini. Tapi fakta yang terjadi, justru rumah kami dilewatkan saja begitu. Apakah ini bukan pilih kasih dan tebang pilih?. Ataukan memang ini sebuah kesengajaan yang mereka lakukan?. Kini kotak hitam yang berada di atas tiang-tiang listrik itu sudah penuh siapa yang salah?. Mau salahkan kami?.

Jelas kami minta harus ada penjelasan yang akurat dan logis dari manajemen PT. Telkom untuk menjelaskan hal ini.

Waktu tanggal 24 Agustus 2018 saya datang di kantor Telkom cabang Sentani untuk bayar sisa 2 bulan tunggakan kami, staf pegawai Telkom di sana katakan satu atau dua minggu akan ada petugas yang datang untuk lakukan migrasi ke rumah saya. Petugas teler yang adalah seorang ibu ini juga bilang, bahwa hal itu tergantung juga pada staf petugas migrasinya apakah mereka bersedia tidak.

Saya ingat betul apa yang disampaikan ibu teler di kantor telkom Sentani saat itu. Ketika awal saya masuk bertatap muka langsung dengan kepala cabangnya yang juga merupakan seorang ibu, setelah ditawarkan untuk membayar saja sisa tunggakan di meja kerjanya di ruangan kepala cabang, ibu pimpinan ini sempat kaget juga ketika saya ceritakan kalau sampai sekarang rumah kami belum ada migrasi yang dilakukan.

Sempat nadanya tinggi dan bilang akan pertanyakan hal ini ke petugas migrasinya sendiri. Hal ini didengar langsung istri saya yang hari itu juga ikut masuk bertemu dengan kepala kantor cabang di ruang kerjanya.

Berselang seminggu lebih lewat, saya datang lagi bertemu dengan petugas penerimaan pembayaran tagihan telkom untuk mempertanyakan migrasi yang masih belum kunjung dilakukan. Saya lupa tanggalnya, tapi di kantor telkom Sentani itu saya lihat ada CcTV yang dipasang, jadi pasti beberapa kali kedatangan saya ke sana direkam dan sudah diketahui.

Setelah saya datang terakhir ketemu ibu teler itu lagi, dia balik bertanya ke saya ; “oh, masih belum migrasi ya?.” Saya katakan sama dia; “iya belum bu!. Ini bagaimana? kok lama sekali migrasinya. Saya ini wartawan dan kerja saya itu sangat butuh fasilitas internet.”

“Kenapa lama sekali?,” saya tanyai ibu itu. Lalu ibu petugas di meja kerja yang berhadapan langsung dengan pintu masuk kantor telkom ini mulai mengotak-atik komputer di atas meja kerjanya dan mengatakan, “oke, saya sudah melapor dan meminta bantuan langsung ke pusat, jadi bapak tinggal tunggu saja di rumah.”

Tapi saya dan seluruh keluarga saya terus menunggu di rumah sampai sekarang masih belum ada tanda-tanda yang jelas dari mereka di telkom. Ini ada apa?.

Beberapa kali juga saya lihat di komplek saya ada beberapa petugas telkom yang datang pasang jaringan atau perbaiki jaringan atau apa, tapi saya tidak mau bertanya ke mereka. Saya mau lihat, apakah setelah mereka kerja di jalur atas ini akan turun ke jalur bawah untuk lakukan migrasi di rumah saya tidak?! Tapi sampai malam pun tak ada seorang pun yang datang ke rumah kami di jalur 6. Jelas ini aneh sekali.

Lalu untuk diketahui, petugas telkom yang pertama datang promosikan paket Indihome ini ke rumah saya, inisial G. Dia itu tinggal bersebelahan saja dengan jalur rumah saya. Yang tidak kami mengerti, kenapa dia ada di sebelah kok waktu mau migrasi dia tidak kasih tahu buat petugas migrasi telkom itu untuk migrasi juga di rumah saya?. Ini kan tidak masuk akal sama sekali. Dia sendiri yang datang ke rumah saya untuk promosi produk telkom ini kok, saat mau migrasi kami dilupakan. Apakah ini unsur kesengajaan atau apa?. Tuhan sajalah yang tahu.

G ini juga waktu saya panggil ke rumah, dia balik bertanya ke saya, apakah saya sudah sampaikan juga ke kantor telkom atau belum saat membayar tagihan waktu itu. Saya bilang ke dia bahwa waktu saya bayar tagihan sudah dikasih tahu sama ibu pegawai yang terima pembayaran tagihan di kantor telkom Sentani bahwa akan ada perubahan ke kabel optik. Jadi saya katakan saja kami ini pelanggan jadi akan siap saja di rumah kalau ada petugas yang mau datang lakukan migrasi. Intinya, kalau perubahan yang telkom lakukan demi kepuasan pelanggannya sendiri, kenapa kami harus tolak?. Iya kan?.

Pegawai telkom G ini juga waktu itu ketika saya ketemu lagi di perempatan jalan di dalam komplek kami, dia bilang bahwa kotak hitam yang dekat ke jalur rumah saya sudah penuh, sehingga kalau mau tarik dan pasang ke rumah saya harus dari kotak yang lebih jauh ke bagian jalur atas, tapi jaraknya lebih dari 300an meter. Jadi saya sempat komen ke dia, saya bilang kalau waktu itu petugas migrasinya tidak lupa rumah saya bahwa ada pelanggan lama juga di bawah, pasti tidak akan memakan kabel dengan jarak yang panjang kaya begini. Yang salah siapa? kenapa rumah kami dilewatkan?. Lucu dan aneh sekali memang.

Lewat berita ini, saya sangat meminta dan mengharapkan supaya segera migrasi pun harus dilakukan di rumah saya. Kami ini pelanggan lama bukan baru kemarin sore. Yang jelas komplain kami ini akan saya ekspos terus dengan judul yang lain di edisi berikutnya lagi, dan akan saya share ke semua nomor-nomor WA pegawai telkom yang ada saya simpan biar diketahui. Saya juga akan share berita ini ke beberapa alamat telkom di sejumlah medsos biar komplain kami ini pihak telkom di kantor pusat di Jakarta pun tahu!.

Terakhir dari saya, dengan contoh kasus yang kami alami, semoga nanti tidak ada lagi tebang pilih atau pilih kasih buat pelanggan telkom yang lain di kabupaten Jayapura, kota Jayapura dan di Papua. Kami ini pelanggan yang rutin membayar. Meskipun ada hutang atau tunggakan, tetap kami lunasi terus plus denda-dendanya.

Juga terkait kinerja petugas telkom sendiri, saya sangat mengharapkan agar nantinya lebih baik lagi ke depan, demi demand masyarakat yang terus meningkat bagi PT. Telkom atas produk Indihomenya sendiri, serta demi memperoleh apresiasi yang benar-benar luar biasa karena jasanya (telkom) yang sangat memuaskan kami para pelanggannya di bumi Kenambai Umbai kabupaten Jayapura.

{Pewarta; Jeffry, RW}

About the Author

Harian Nasional Koran Pemberitaan Korupsi