Published On: Thu, Aug 30th, 2018

Hidup untuk Melayani Bukan Dilayani, Berbuatlah Sesuai Kehendak Tuhan YME

Share This
Tags

KPK | Keerom, Papua – Ramah, tegas, jujur, detail dan berwawasan luas. Empat kata ini menggambarkan sosok Longginus Fatagur di awal perjumpaan di Jakarta, Ahad silam. Longginus, tokoh Dewan Adat Keerom dan sekaligus Politisi Partai Golkar ini memang memiliki ingatan fotografik yang tajam. Ia menggambarkan secara detail setiap sejarah Kabupaten Keerom di Provinsi Papua.

Tak salah, Longginus pada masa mudanya adalah sosok intelejen yang bereputasi besar. Buktinya ia mendapat penghargaan langsung dari Presiden Soeharto atas jasa-jasanya mengembalikan Orang Papua dari hutan pasca Operasi Trikora, silam.

Sebagai tokoh adat Keerom Papua, Longginus fasih terhadap sejarah kabupaten Keerom yang secara geopolitik amat strategis. Seluruh Wilayah Timur Kabupaten Keerom yang berbatasan langsung dengan Papua Nugini (Papua New Guinea/PNG). Publik mungkin mengenal kota Jayapura dan Merauke sebagai kabupaten yang berbatasan dengan PNG, namun mengacu pada luas rentang geografis perbatasan Indonesia-PNG, maka kabupaten Keeromlah “Serambi Indonesia” paling timur yang sesungguhnya.

Mengacu pada data Badan Pusat Statistik Keerom, dari 11 distrik yang ada di Kabupaten Keerom, 5 distrik berada di wilayah perbatasan dengan PNG. Lima distrik tersebut adalah Arso Timur, Towe, Senggi, Waris dan Web. Letak geografis berdampak pada kemajemukan masyarakat, budaya dan bahkan agama di Keerom.

Butuh Pemimpin Berkaliber
Dengan kondisi geopolitik seperti itu, kabupaten Keerom membutuhkan pemimpin dengan kemampuan kaliber (keberanian-red) luar biasa. Yaitu pemimpin yang tidak hanya fokus pada pembangunan saja, tetapi juga mampu merekat persaudaraan, menjaga keamanan daerahnya dan memiliki visi untuk Keerom dalam jangka panjang.

Pada awal januari 2018, Bupati Keerom Celsius Watae mangkat. Sang Wabup Muhammad Markum otomatis menggantikan Watae sesuai perintah undang-undang. Lantas, kursi Wakil Bupati Keerom kosong. Masyarakat melalui dukungan dan tandatangan mendorong Longginus untuk mengisi posisi sebagai wakil bupati Keerom.

Sosok Longginus memiliki segala syarat untuk diangkat sebagai Wakil Bupati dalam mendampingi Bupati Markum memimpin Keerom ke depan. Longginus juga memiliki modal politik yang mumpuni. Modal politik ini menjadi dasar keyakinan dirinya dan masyarakat Keerom yang mendukung dirinya untuk maju sebagai calon wakil bupati Kabupaten Keerom saat ini. Berikut ini beberapa modal politik yang sekaligus menunjukan kapasitas Longginus sebagai salah satu tokoh terbaik di Keerom.

Penjaga NKRI
Pasca Operasi Trikora, orang-orang Papua melarikan diri ke hutan-hutan. Pemerintah kemudian mengutus Tentara Nasional Indonesia (TNI) untuk mengembalikan orang-orang Papua ke desa dan kota. Namun operasi ini menemui kendala, karena perlawanan dari masyarakat Papua. Untuk melancarkan misi ini, pemerintah membutuhkan bantuan putera-putera terbaik asli Papua pada saat itu. Waktu itu TNI dan POLRI masih bergabung dan disebut dengan istilah ABRI (Angkatan Bersenjata Repoblik Indonesia).

Pada titik inilah, Longginus yang masih remaja direkrut oleh Koramil Abepura untuk menjadi anggota intelejen pada tahun 1974. Longginus tinggal dengan salah satu kakak sepupunya, Yosef Fatagur di Abepura. Pilihan ini tentu bertentangan dengan pilihan saudara-saudaranya yang lain. Usai mendapat pelatihan singkat selama tiga minggu, Longginus sah menjadi anggota intelejen. Ia bersama beberapa putera Papua lainya mendapat misi “mengembalikan orang Papua ke desa atau kota.” Saat itu, Longginus yang berusia 16 tahun masih duduk di kelas lV SD Muhammadiyah Abepura.

Misi dimulai. Longginus muda diberangkatkan mulai dari Densipur ke Arso Skanto. “Orang pertama yang saya kasih keluar adalah masyarakat Kwimi di bawah pimpinan Paulus, termasuk Natalius yang sekarang jadi kepala kampung Kwimi,” kenang Longginus.

Selama operasi, Longginus tidak menggunakan bahasa setempat. Sebab ia harus menciptakan kesan bahwa ia tidak berasal dari Keerom. Dari hutan-hutan, Longginus membawa pulang orang Papua kembali ke kampung-kampung dan distrik. Selang berapa bulan, Longginus masuk ke wilayah kota Arso. Arso juga tampak sepi, sebab masyarakat sudah pada lari semua ke hutan. Hanya beberapa keluarga yang bertahan di Arso. Salah satunya adalah Damianus Borotian, seorang guru yang menjaga misi, umat dan gereja. “Kakak Damianus juga seorang saudara dekat,” kata Longginus.

Di Arso, ada lapangan terbang, puluhan tentara dan tiga orang polisi. Sekitar 100 meter dari pos jaga Longginus, ada sebuah keluarga, yakni keluarga Bogor yang tidak ikut lari ke hutan. Di rumah inilah, Yosefina Fatagur, adik dari Longginus tinggal. Namun, Yosefina tidak mengetahui bahwa kakaknya Longginus sudah menjadi tentara dan kini ada di Arso. “Ia menderita, tak tahu mengadu kepada siapa. Ia tidak tahu saya ada di sana,” kisah Longginus.

Namun Damianus Borotian mulai mengenal Longginus. Wajah Longginus terasa tak asing lagi bagi Damianus karena mirip dengan sang ayah Grasowon Fatagur. “Kakak Damianus tanya saya, kau dari mana? Kau macam mirip orang di sini,” kenang Longginus lagi. Namun Longginus tidak menanggapi Damianus, sebab ia memegang sumpah intelejen, harus menyimpan rapat informasi dirinya. Namun ia melihat posisi Damianus sebagai pintu masuk bagi kemudahan operasi. Lantas Longginus berbicara dengan komandan operasi yang ada di Arso. “Komandan, kalau saya sembunyi diri, itu akan sulit dan membuat mereka menderita, saya harus terbuka untuk gali informasi,” seru Longginus kepada atasannya.

Tak menunggu lama, sang komandan pun menyetujui ide Longginus. Akhirnya Longginus datang memperkenalkan diri kepada Damianus. Mereka berpelukan erat. Damianus merasa senang, sebab keberadaan Longginus di kubu tentara memudahkan operasi mengeluarkan masyarakat dari hutan.”Kaka senang, kau ada di situ (tentara), berarti keamanan terjamin,” kata Longginus mengenang ucapan Damianus.

Damianus lantas bercerita kepada Yosefina perihal Longginus. Sang adik yang mengetahui itu menangis keras. Ia langsung mendatangi Longgginus ke pos. Setelah melihat muka satu dengan yang lain, mereka berpelukan dan berbicara dalam bahasa daerah mereka sendiri. “Adik saya bilang kepada saya, bahwa ia mau pergi juga ke hutan. Saya bilang ke dia, “kalau kamu mau lari, itu tidak akan berarti. jangan lari terus, harus kembali!.” Nasehat Longginus untuk adiknya.

Yosefina mengetahui lokasi persembunyiaan sang kakak, Yulius Fatagur dan masyarakat lainnya. Usai pertemuan itu, Longginus berpikir semalam suntuk agar bisa menjadikan adiknya sebagai pintu masuk untuk bertemu sang kakak, Yulius Fatagur. Lantas ia menulis surat kepada kakak sepupunya itu. Esok hari kumudian, Longginus menitipkan surat ke adiknya. Ia juga memberikan perlengkapan berupa gula, kopi, kain sarung dan garam yang banyak kepada sang adik. Longginus kemudian kembali ke Jayapura untuk melanjutkan sekolah di SD Muhamadiyah Abepura, sementara sang adik masuk ke hutan membawa surat Longginus untuk kakak mereka.

Operasi Intelijen Berhasil
Sang kakak menangis saat membaca surat itu. Ia kemudian berseru kepada masyarakat yang ada bersama dia. “Kita harus keluar, adik Longginus menjadi jaminan keamanan kita, kata Yulius Fatagur. Seminggu berselang, sang kakak Yulius Fatagur keluar dari hutan dengan membawa bendera merah putih di tangan. Bersama sang kakak, di barisan depan ada dua tokoh lain yaitu Engel Bate dan Frans Bate. Tak hayal ini membuat Mayjen TNI RK. Sembiring Meliala, Panglima Kodam XVll/Cenderawasi ( sekarang bernama Kodam 8 Trikora) dan segenap pasukan kaget dengan pendekatan intelejen Longginus.

Damianus yang melihat gelihat Longginus, tanpa berpikir panjang lagi meminta Longginus untuk fokus di militer, sementara untuk urusan ijazah biar saya yang urus. “Kakak Damianus bilang ijazah saya urus, yang penting kamu bisa bawa masyarakat kembali ke sini. Saya kembali ke Arso Kota dan saya dapat ijazah SD.”

Harus Menerapkan Prinsip Humanis
Pada 1978 – 1979, ia mengikuti pelatihan intelejen khusus di Jakarta. Lalu ia kembali ke Jayapura Papua dengan status Intelejen Khusus. Longginus lebih mengedepankan sisi humanis dalam setiap operasi, tujuannya ialah dengan memakai pendekatan keluarga, adat serta pula agama. Jika tahap ini tidak berhasil, barulah ia melakukan pendekatan militer dengan menangkap masyarakat agar kembali ke kota atau kampung. Dalam rentang waktu 1977-1990, TNI juga menghadapi perlawanan Organisasi Papua Merdeka (OPM), Longginus tentu juga harus turun tangan.

Rentetan tantangan itu berbuah pada kenaikan jenjang karir Longginus. Pada tahun-tahun terakhir operasi sekitar 1984, dirinya sudah berpangkat Kapten. Ia juga menjadi anggota duta, antara PNG, Australia, dan Indonesia. Posisi ini membuat ia memiliki akses untuk membawa pulang masyarakat dari hutan-hutan PNG. Wilayah operasinya semakin luas menjangkau sebagian wilayah di Papua, mulai dari Keerom, Serui, Biak, dan Timika.

Salah satu langkah paling berani Longginus adalah saat ia masuk ke Markas Besar OPM di perbatasan Indonesia dengan PNG. Ia tak asal nekat, sebagai putra Keerom yang merupakan daerah yang berbatasan langsung dengan PNG, Longginus memiliki semacam otoritas yang melampaui kapasitasnya sebagai intelejen. “itu tanah saya, OPM tidak dengar, saya usir!!,” tegasnya menjelaskan.

Pada tahun 1984 itulah, Longginus marah besar kepada OPM. Sebabnya OPM mendirikan markas besar di Black Wara perbatasan Keerom dengan PNG. “Di situ, saya langsung bicara dengan OPM, yang jadi bos-bos besar di sana. Masyarakat yang menderita adalah masyarakat saya, saya harus bawa pulang mereka. Kalau kamu tinggal di sini, kita baku lihat. Kamu makan di mana, karena ini tanah saya.” Longginus tidak mau membuat perjanjian dengan OPM karena ia datang tidak sebagai tentara atau intelejen, tetapi sebagai kepala suku. Di Black Wara kemudian terjadi penjemputan besar-besaran orang Papua yang lari ke PNG.

Longginus juga berhasil membawa pulang dua pimpinan OPM faksi paling keras, kembali ke pangkuan ibu pertiwi. “Keduanya bernama Markus Sam dan Yan Sewi. Markus Sam ini dari mantan anggota RPKAD (sekarang Kopassus). Dia itu paling keras. Dia dari RPKAD masuk ke OPM. Namun saya sukses membawa mereka pulang,” kata Longginus lagi.

Longginus sejatinya mendapat surat perintah untuk tembak di tempat. Namun setelah sembilan bulan mencari dan ketemu, Longginus tak langsung menembak. Ada perasaan tidak tega untuk membunuh saudara sendiri setelah bertemu, cetusnya. “Saya mulai tarik nafas padahal pistol sudah siap. Saya berpikir ini bagaimana, saya harus membunuh orang saya sendiri.”

Saat bertemu, Longginus mengajak kedua orang itu untuk makan Papeda. Sembari makan, Longginus mencabut pistol dan surat perintah serta meminta kedua tokoh OPM itu untuk membacanya sendiri. Usai membaca mereka tertawa bersama dan berpelukan. Lantas kedua tokoh OPM itu meminta Longginus untuk membawa keluar masyarakat yang bersama mereka, baru mereka dua bisa keluar dari hutan.

Hingga akhir operasi, hanya orang-orang tertentu yang tahu Longginus adalah anggota intelejen khusus TNI. Selain Damianus, beberapa saudara lain ikut membantu tugas Longginus. Antara lain; Matias Borotian, pegawai pengadilan, Klemens Kiaot, seorang anggota polisi, serta beberapa orang lain yang ikut serta bersama mereka.

Memiliki Ide dan Konsep Membangun Keerom dan Papua, terbukti dengan merintis jalan Trans Papua
Longginus bukan hanya seorang intelejen khusus yang cakap, ia juga mulai memikirkan masa depan Keerom, begitupun Papua. Longginus berpikir, setelah masyarakat keluar dari hutan tak serta merta dapat menyelesaikan masalah. Harus ada solusi yang membuat masyarakat bisa betah dan merasa diperhatikan oleh negara. Dan itu adalah pembangunan, jawabnya.

Saat itu, TNI menjadi garda terdepan pemerintah untuk proyek pembangunan infrastruktur. Lantas, Longginus menghadap panglima Sembiring. Ia tak sendirian, ia datang bersama Kasmirus Girbes yang juga memiliki konsep membangun yang sama. “Saat itulah baru kakak Kasmirus tahu kalau saya seorang tentara karena mengenakan seragam lengkap.”

Di depan Panglima Sembiring, keduanya menyampaikan konsep dan kesediaan untuk membangun jalan Trans Papua. Saat itu, keduanya berencana membangun dari Abe pantai sampai Waris. Inilah cikal bakal jalan trans Papua hari ini. Pada awal 1980, kami mendapat berita bahwa jalan masuk, dan perusahan yang membawa pekerjaan ini adalah PT Bintang Mas. “Perusahaan ini yang merintis jalan dari Abe Pantai sampai Waris,” Cerita Longginus.

Pensiun Demi Adat
Pada 1986, Longginus mengundurkan diri dari dinas militer. Pengunduran diri ini berlatar belakang permohonan masyarakat Adat (LMA) Keerom yang memintanya untuk berhenti. Jabatan Dewan Adat bersifat sakral, karenanya tidak bisa merangkap. Disis lain, TNI masih membutuhkan sosok seorang Longginus. Akhirnya pada 1986, permohonan pengunduran diri dikabulkan, namun dengan syarat Longginus tetap membantu kerja TNI di Papua.

Selama 10 tahun, Longginus menjadi satu dari lima anggota Dewan Adat, Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Keerom. Ia bahkan pernah dipercayakan menjabat sebagai ketua sebelum pensiun pada 2012 silam. Di masa ini, Longginus mendorong banyak generasi muda untuk sekolah dan masuk ke politik dan pemerintahan. Ia bahkan membiayai beberapa anak muda Keerom untuk menempuh pendidikan tinggi. “Itu cara terbaik menciptakan kader-kader potensial untuk kepentingan Keerom nantinya, ya suruh mereka sekolah!. Saya biayai mereka,” beber Longginus.

Selain dewan adat LMA yang terdaftar dalam organisasi resmi di Kementrian Hukum dan HAM, ada juga dewan adat yang mengurus hak budaya. Meski begitu Longginus mengatakan, sebagai dewan adat, dia berdiri dan bebas berbicara, karena kalau diikat dengan aturan pemerintah, dia tidak akan berbicara hak-hak ulayat lagi. Saya independen, berhak bicara penuh.

Terima Penghargaan, Tolak Uang
Usai mengundurkan diri, Longginus terbang ke Jakarta untuk menerima penghargaan langsung dari Presiden Soeharto. Selama hampir tiga jam, Longginus berbincang-bincang dengan Soeharto. Presiden Soeharto mengucapkan terima kasih atas perjuangan Longginus. Soeharto bahkan menyebut Longginus sebagai salah satu anggota intelejen khusus terbaik yang kita punya pada saat itu. “Presiden kasih Piagam Penghargaan kepada saya, berwarna merah putih berbentuk piring dengan tulisan “Intelejen Terbaik Indonesia di bagian perbatasan Arso-Keerom Papua,” ujar Longginus mengisahkan pengalamannya.

Selain Piagam, ia juga mendapatkan uang dengan nominal Rp. 100 juta. Namun, Longginus tidak membawa pulang uang itu dengan alasan, uang itu adalah hadiah atas pengabdiannya kepada negara.

Longginus tidak merasa uang itu sebagai hasil dari keringatnya sendiri. Ia malah menghadap Mgr Leo Soekoto, Uskup Agung Jakarta saat itu dan menyerahkan uang itu. Longginus memang tidak ingin membawa pulang uang itu ke keluarga nya di Papua, tetapi menyerahkannya di Gereja. Oleh Gereja Keuskupan Agung Jakarta, uang ini kemudian diserahkan kepada Uskup Jayapura Herman Muninghoff OFM. Longginus hanya meminta kepada Mgr Leo agar membangun Gereja, Susteran dan Rumah Sakit di kampung Kwana, Keerom pada saat itu.

Tak berhenti di situ, pemerintah memberi penghargaan kenaikan pangkat dari Kapten ke Mayor kepada Longginus. Dan karena ia masuk kategori pensiun dini, ia lantas direkomendasikan untuk masuk di PT PN 2 Tanjung Marawa sebagai keamanan. ” Jadi keluaga saya hidup dari situ, sekalipun saya tidak bekerja tetapi uang sudah dianggarkan dari PT PN 2. Sampai bulan Agustus 2017 kemarin, saya pensiun dari PT PN 2 tanjung Marawa.

Utamakan Pendidikan.

Selepas pensiun, Longginus menjadi Dewan Adat sampai 2012. Dalam rentang waktu inilah, ia mengikuti pendidikan paket B, paket C dan akhirnya menempuh studi di Sekolah Tinggi ilmu Administrasi (STIA) YAPPANN Jakarta. “Karena Perjuangan, saya kehabisan waktu untuk mengikuti jenjang pendidikan formal. Tetapi bagi saya pendidikan itu nomor satu, lantas saya ikut program paket itu hingga kuliah.”

Bagi Longginus, pendidikan sangatlah penting karena dapat menambah wawasan tetapi juga dapat membantu berkembangnya cakrawala berpikir manusia, dan pula dapat menambah wawasan dan pengetahuan yang memadai. “Bagi saya, ilmu adalah sesuatu yang harus saya raih, sebab merupakan landasan pijak sehingga kelak ketika saya dipercayakan untuk memimpin masyarakat banyak, saya sudah tidak ragu lagi karena sudah ada bekal, yakni ilmu dan segudang pengalaman yang saya miliki. Untuk itu bagi saya, usia tidak akan membatasi saya untuk belajar dan belajar, di manapun dan kapan pun harus belajar.”

Longginus juga yakin, dukungan masyarakat merupakan bagian dari rencana Tuhan bagi dirinya untuk melayani umat dan masyarakat Keerom ketika saatnya tiba. “Lewat keyakinan dan refleksi iman katolik bahwa Tuhan itu baik, Tuhan pasti akan membantu kita dalam perjalanan in,” ucap Longginus yakin.

Satu hal lagi yang Longginus sadari dan merasa terpanggil, adalah bagaimana agar bisa menciptakan dan mewujudkan impian masyarakat Keerom yang lebih baik dengan menghadirkan ide – ide dan solusi yang lebih mengutamakan kepentingan orang banyak/masyarakat Keerom, serta menjadi prioritas di atas segalanya. “Tuhan pasti menyertai kita jika kita memiliki niat yang tulus untuk berbuat yang terbaik bagi negeri dan masyarakat kita yang mendiami kabupaten ini.

Peran Politik
Longginus juga menyadari, keterlibatannya dalam berpolitik kelak akan membawanya pada sebuah tanggung jawab yang besar. Karena itu, sejak awal menjadi intelejen, ia sudah terlibat sebagai kader Golkar. Dalam perjalanan waktu, acapkali beberapa partai menawarkan Longginus kursi untuk bertarung di legislatif, namun ia menolak. Ia bahkan ditawari untuk masuk menjadi ketua DPC di salah satu partai, tetapi karena ditawari dengan uang, dirinya menolak.

Memang pribadi yang satu ini sangat tidak suka dengan permainan kotor yang berbau transaksional/politik uang. Tetapi dari semua alasan yang ia berikan, ada satu alasan kuat yang membuat dirinya tidak bisa diajak kompromi dengan sesuatu yang tidak bersih, yakni rasa cintanya terhadap partai yang identik dengan warna kuning itu, yaitu yang berlambang pohon beringin, sebut calon wakil bupati satu ini kepada media.

Bahkan, Longginus secara spontan dan penuh kejujuran berkata demikian “saya akan bertahan di rumah ini, perahu ini (Golkar) karena di sinilah saya dibesarkan dan bertumbuh bersamanya, serta di pohon ini pula saya dapat berlindung dari sengatan matahari, dan derasan air hujan yang turun. Di Golkar posisi saya sebagai penasehat, ketua 1, pelaksana. Sampai sekarang saya menjabat sebagai wakil ketua penasehat DPC Keerom,” jelas Longginus.

Kini di usianya yang sebentar lagi mendekati usia senja, Longginus berniat mengajukan diri sebagai Cawabup dari Bupati Keerom saat ini. Itu bukan semata karena ia haus kekuasaan, tetapi karena Longginus menilai perkembangan Keerom saat ini kelihatan jalan di tempat. Banyak pemimpin yang tidak sungguh-sungguh mau membangun Keerom, karena itu Longginus berkerinduan dan berkeinginan kuat untuk membantu dan mendampingi Muh. Markum selaku Bupati Keerom saat ini, pastinya untuk bersama membangun Keerom dalam segala bidang.

” Keinginan saya di sisa waktu 3 tahun ini, kita perlu menunjukan kembali wajah Keerom yang sesungguhnya. Mulai dari infrastrukturnya, pendidikan, kesehatan dan sebagainya, ” kata Longginus.

Selain pembangunan ekonomi, pendidikan dan kesehatan akan menjadi hal yang sangat penting. Bagi Longginus, pendidikan formal dan non formal akan berjalan bersama dan akan pula mendapat perhatian dari pemerintah daerah. Khusus untuk pendidikan non formal, ini akan sangat membantu, karena di dalamnya ada pelatihan dan seminar. Tetapi juga untuk membuka mata masyarakat terhadap dunia luar dan perkembangan global yang ada.

“Saya maju untuk bersama Pak Markum, bupati saat ini, melanjutkan pekerjaan Pak Watae (Bupati yang sudah meninggal), karena saya juga tahu persis rencana pembangunan Pak Watae pada saat ia masih hidup. ” Urai Longginus.

Longginus pun memiliki visi bagi kesiapan generasi muda Keerom untuk menyambut perubahan dan perkembangan global.

“Visi saya adalah, terutama sekali mengajak adik-adik, dan anak-anak saya yang kebanyakan keluyuran untuk duduk bersama, berdialog dan bekerja bersama-sama. Mereka ini adalah anak-anak kita, generasi penerus kabupaten ini. Jangan berdiam diri dan acuh tak acuh terhadap mereka. Merekalah yang akan meneruskan dan memegang tongkat estafet yang ada sekarang pada beberapa tahun kedepan. Betul kan?.

Terkait pendidikan di Keerom, saya menilai masih banyak generasi muda yang tidak mengenyam pendidikan tinggi. Saya boleh jujur katakan bahwa tingkat pendidikan kita masih jauh ketinggalan. Padahal pendidikan sangat penting, ia adalah pelita yang menerangi setiap sudut kegelapan. Pendidikan pula adalah jendela dunia yang bisa mengantar kita, untuk membuka cakrawala berpikir kita dan memberikan dorongan serta semangat untuk mau terlibat aktif dalam perubahan dan pembangunan.

Membesarkan Partai Golkar
Longginus mengakui, bahwa kader-kader Golkar di Keerom merosot secara jumlah. Ia melihat ada langkah yang hilang dalan pengkaderan generasi muda.” Kita akan panggil lagi kader-kader lama yang sudah tua untuk melihat Golkar di DPC Keerom. Dengan mereka kita bisa bina anak-anak muda. Karena mereka tidak mengikuti anggaran dasar, mereka tidak ikut pembinaan – pembinaan pendidikan, juga kepartaian. Kalau kita orang tua itu sudah belajar, kita hanya ingin membagi pengalaman itu, pesan Longginus.

Sebagai salah satu kader senior di Golkar, Longginus amat maklum dengan dinamika partai beringin itu di Keerom. Jika sudah banyak generasi muda terlibat sebagai kader, Longginus merasa mimpinya terhadap Golkar di Keerom bisa terwujud. Apa itu..???.

“Saya punya mimpi, bila perlu tahun 2019, anggota DPRD Keerom harus kejar 6 kursi. Jangan cuma 3 kursi saja, kalau bisa kita berjuang dan memperoleh antara 4 s/d 6 kursi itu harus kita dapat. Kalau sampai kita dapat 6 kursi, tentu itu memiliki arti yang lebih. Yaitu, DPC Keerom bisa merebut salah satu kursi DPD atau DPR. Ini analisis politiknya atau hitung – hitungan politiknya. ”

Mengacu pada jumlah pemilih di Keerom, analisis Longginus sah-sah saja. Per 2018, terdapat sekitar 61 ribu jiwa yang memiliki hak pilih di Keerom. Kita ambil 30 saja sudah hebat, kalau sudah dapat 6 kursi saja, itu berarti kekuasaan saya juga ada sebagai wakil bupati (kalau di tunjuk sebagai wabup-red).

Selain itu, Longginus juga berencana agar DPC Golkar Keerom bisa memiliki kantor sendiri yang baru. Baginya itu peting agar konsolidasi politik bisa terintegrasi dan dikomandoi dari ruang yang satu ke ruang yang lain.

“Dengan pencapaian yang saya telah lakukan dalam berbagai aspek di kabupaten Keerom dan Papua secara keseluruhan, maka dengan segala kerendahan hati saya berniat tulus dan iklas mengajukan diri sebagai Kandidat calon Wakil Bupati Kabupaten Keerom.

Segala isi profil saya yang telah tertuang dalam naskah ini, kiranya dapat menjadi rujukan pertimbangan yang memadai bagi petinggi Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar. Demikian untaian kisah-cerita backround serta track record dari seorang Longginus Fatagur, putera intelektual asli Keerom kepada Koran Pemberitaan Korupsi.

(Fernando.NW/JRW)

About the Author

Harian Nasional Koran Pemberitaan Korupsi