Published On: Sat, May 5th, 2018

Fauzi Baadila Sebut Film 212 Proyek Idealis

KoranPemberitaanKorupsi.com | Aksi damai 212 yang bikin heboh di tahun 2016 lalu karena jumlah pesertanya yang luar biasa banyaknya akan diangkat dalam sebuah film layar lebar. Sejumlah nama artis papan atas Indonesia ikut membintangi film tersebut. Dan tidak disangka, ternyata pembuatan film ini sempat mengalami berbagai kendala lho.

Sebut saja Fauzi Baadila, selaku salah seorang pemain film 212: The Power of Love ini menceritakan kendala izin yang sering menimbulkan masalah, bahkan nantinya di hari penayangan, film ini Cuma akan mendapatkan 20 layar. Sebuah jumlah yang tentunya sedikit jika dibandingkan dengan film lokal lainnya.

“Yang gue tahu, susah dapat izin. Sulit banget, sampe script-nya dicek berkali-kali. Mau syuting di sebuah lokasi misalnya, itu nggak boleh. Ada banyak titik-titik yang kita nggak boleh syuting. Izinnya buat lolos itu sulit, setahu saya ya. Sebenarnya sih itu bukan saya yang kompeten menjawab, tapi itu yang saya dengar,” tutur pria kelahiran Kairo, Mesir saat ditemui di sebuah bioskop XXI di Jakarta Selatan, Selasa (1/5/18).

“Dapat jumlah layar bioskopnya juga dikit banget, cuma dapat 20 layar. Kalah dibanding film-film pop lainnya. Jadi kalau emang mau ya nonton di awal-awal tayang tanggal 9 atau 10 Mei supaya kalau penontonnya banyak mudah-mudah bisa dapat kuota (layar) lebih banyak juga,” ajak Fauzi.

Bukan hanya itu, salah satu kendala besar lainnya yang dialami dalam pembuatan film ini adalah pendanaan. Disebutkan Fauzi, banyak sponsor yang mengundurkan diri dengan berbagai macam alasan. Memang sih aksi demo 212 ini di mata sebagian kalangan termasuk kategori kontroversi.

“Setahu gue, yang gue dengar, sponsor mundur semuanya. Jadi pas syuting aja tuh kita mesti sampai berhenti-berhenti dulu karena kita masih harus ngumpulin dana lagi karena dananya tuh dana wakaf, patungan. Nggak ada yang mau modalin. Insya Alloh ini proyek idealis. Sulit buat bikin film ini,” tandas Fauzi.

About the Author

Harian Nasional Koran Pemberitaan Korupsi