Published On: Fri, Mar 23rd, 2018

LBH Antara 56 Ajak Lakukan Aksi Earth Hour

Ketua Dewan Pembina Lembaga Bantuan Hukum Anarki Nusantara 56 (LBH Antara 56) Rosidi Roslan mengajak masyarakat Indonesia melakukan aksi solidaritas untuk bumi. Yaitu dengan cara mematikan lampu dan peralatan yang menggunakan listrik selama 60 menit saja.

Ajakan aksi solidaritas untuk bumi ini terkait adanya pernyataan World Wide Fund for Nature (WWF) yang menyebut bumi sedang krisis. Kerusakan bumi berjalan begitu cepat.

Dari laporan WWF-UK Living Planet Report, sebanyak 80 persen spesies air musnah, sedangkan lebih dari 50 persen populasi hewan darat punah. Ada 40 persen hutan berubah menjadi lahan pertanian dengan 15 juta pohon hilang tiap tahun untuk bahan baku produksi minyak.

“Untuk itulah, kami mengajak masyarakat Indonesia melakukan aksi solidaritas untuk bumi. Semoga dengan melakukan hal kecil ini bisa bermanfaat bagi kelangsungan bumi,” ujar Rosidi.

Aksi ini, tambah Rosidi, yaitu dengan mematikan semua peralatan yang menggunakan listrik pada hari Sabtu (24/3), dimulai pukul 20:30-21:30 WIB. Dan aksi ini dikenal di seluruh dunia dengan nama Earth Hour.

“Earth Hour adalah kesempatan untuk menggunakan kekuatan kita, sebagai individu atau kolektif, untuk turut berpartisipasi dengan melakukan tindakan melindungi jaring kehidupan ini sebagai imbalan atas semua yang bumi telah berikan kepada kita. Hal ini demi keberlangsungan masa depan generasi penerus kita selanjutnya,” ungkap Rosidi.

Seperti diketahui, awal mula aksi ini dari acara mematikan semua sumber cahaya di Sydney pada 2007, aksi ‘Earth Hour’ kini dilakukan di 180 negara termasuk Indonesia. Dan tepat tanggal 24 Maret 2018, dunia melakukan aksi Earth Hour dengan mematikan seluruh lampu serta perabot lain yang memakan daya listrik selama satu jam yakni mulai pukul 20:30-21:30.

Dikutip dari situs resmi World Wide Fund for Nature (WWF), mematikan lampu selama 60 menit menjadi simbol yang menunjukkan solidaritas untuk planet bumi. Ada beberapa langkah yang bisa diambil untuk memperbaiki kondisi ini, termasuk dengan Earth Hour. Hemat listrik jadi salah satu cara untuk meminimalisir dampak perubahan iklim.

Pelaksanaan Earth Hour di Indonesia akan fokus pada empat isu utama. Ini terdiri dari inisiasi kampanye kawasan bebas sampah di 31 kota, penanaman mangrove sebanyak 26 ribu bibit di lebih dari 15 wilayah di Indonesia, inisiasi komitmen 9 kampus di 9 kota untuk pembangunan kesadaran konsumen akan pola konsumsi yang berkelanjutan, dan menggerakkan kampanye pembangunan kesadaran terkait keanekaragaman hayati dan kampanye anti perdagangan liar.

Selama sekitar 10 tahun lebih terlaksananya aksi, Earth Hour telah membantu penciptaan 3,4 juta hektar kawasan lindung laut Argentina, adanya hutan Earth Hour seluas 2.700 hektar di Uganda dan membantu undang-undang baru untuk perlindungan laut dan hutan di Rusia.

Pada perhelatan Earth Hour ini, sejumlah landmark terbesar dunia dikabarkan akan mematikan lampu display mereka sebagai bentuk komitmen kepedulian, seperti Menara Eiffel, Istana Buckingham, dan Sydney Opera House. Di Indonesia sendiri, aksi kepedulian ini juga dijadwalkan berlangsung di Monumen Nasional, Stadion Utama Gelora Bung Karno, dan beberapa tempat dengan sejumlah aksi seperti yoga, berlari dan atau melukis dalam gelap.

About the Author

Harian Nasional Koran Pemberitaan Korupsi