Published On: Sun, Mar 11th, 2018

Sejarah Gedung Balaikota Jakarta

Gedung Balaikota Jakarta, adalah Sebuah gedung kuno dan bersejarah yang terletak di Medan Merdeka Selatan no 8-9, dahulunya merupakan Kantor Komisaris Tinggi Kerajaan Belanda di Indonesia dan saat ini menjadi bagian penting dari gugus perkantoran Pemerintahan Daerah Ibukota Jakarta karena di sinilah Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta bersama staf berkantor.

Sebelum, menempati gedung Balaikota Medan Merdeka Selatan, pusat pemerintahan kota Jakarta mengalami beberapa kali perpindahan tempat. Ketika Stad Batavia dibentuk pada tahun 1905, dan kemudian berubah menjadi Gemeente Batavia, kantor pemerintahannya bertempat di Stadhuis, yakni bangunan kuno abad XVIII di Stadhuisplein, Sekarang Taman Fatahillah dan dikenal sebagai Museum Sejarah Jakarta).

Berikut ini kami paparkan sejarah Balaikota DKI Jakarta seperti kami kutip dari laman sudinpusarjakpus.jakarta.go.id.

Pada tahun 1913 kantor Gemeente Batavia beralih ke Tanah Abang West (sekarang jalan Abdul Muis no.35, Jakarta Pusat) dan pada tahun 1919 kantor Gemeente Batavia pindah lagi ke Koningsplein Zuid (sekarang Medan Merdeka Selatan no.9).

Pada masa Jepang, antara tahun 1942 dan 1945, nama Gemeente Batavia di ubah menjadi Djakarta Tokubetsu Shi dan tetap menempati kantor Koningsplein Zui no.9. Yang kemudian diubah menjadi Gambir Selatan, setelah Indonesia Merdeka pun kantor pemerintahan kota Jakarta tidak pindah, hanya nama pemerintahan diubah menjadi Pemerintahan Nasional Kota Djakarta dan kantornya disebut Balai Agung Pemerintahan Nasional Kota Djakarta dengan walikota pertama Soewirjo.

Pada tanggal 9 Maret 1948 Belanda membentuk pemerintahan Pre Federal yang menjadikan Jakarta sebagai Ibukota Negara dan berada langsung di bawah Pemerintahan Federal. Nama pemerintahan Kota Jakarta di ubah menjadi Stadgemeente Djakarta. Sejak tanggal 31 maret 1950 kota Jakarta berkedudukan sebagai Kotapraja Djakarta dan Soewirjo diangkat kembali sebagai walikota dan Pada 1950 lah nama Gambir Selatan diubah menjadi Medan Merdeka Selatan.

Pada tahun 1954, pada masa jabatan walikota Sudiro, terjadi pengembangan pertama kantor Pemerintahan Kotapraja Djakarta untuk menampung perluasan kegiatan layanan terhadap masyarakat, Walikota Sudiro menggunakan gedung Medan Merdeka Selatan 8 sebagai kantor bersama-sama dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Gotong Rojong.

Pada tahun 1960, yakni pada masa jabatan Sumarno, Kota Jakarta memperoleh kedudukan istimewa menjadi setingkat dengan Daerah Swantantra Tingkat I. Nama Pemerintah Kotapraja Djakarta Raja diubah menjadi Pemerintah Daerah Chusus Ibukota (DCI) Djakarta dan kepala pemerintahannya adalah seorang Gubernur.

Untuk menampung kegiatan pemerintahan dan layanan yang semakin banyak dan beragam kepada masyarakat, pada tahun 1972 Pemerintah DKI membongkar dan membangunnya menjadi sebuah gedung baru berlantai 24. Pembangunan gedung yang kemudian dikenal sebagai Gedung Blok G ini juga dimaksudkan sebagai proyek “belajar” dan percontohan bagi pembangunan gedung-gedung tinggi yang lain, dan pembangunannya selesai serta diresmikan pada tanggal 28 April 1976 oleh Presiden Soeharto.

Arsitektur Balaikota DKI Jakarta bergaya Neo Klasik Eropa dipadu dengan Pesisir Utara Jawa/Betawi. Sampai saat ini meski gedung balaikota DKI Jakarta mengalami banyak perubahan dan pengembangan namun dalam upaya menjaga dan melestarikan BCB bagian depan gedung tetap diperthankan sabagimana adanya.

Pada masa Gubernur DKI Jakarta ke 17 Ir. Basuki Tjahaja Purnama. MM Fungsi Gedung balaikota di perluas menjadi Destinasi Wisata Balaikota dengan fasilitas, Masjid, Ruang Audio Visual, dan Intenet gratis, serta pelayanan yang prima menuju Jakarta Baru yang bermartabat dan berkemajuan….! (Foto: wikipedia)

About the Author

Media Nasional Koran Pemberitaan Korupsi